Ilustrasi oleh AI
Oleh Asmaul Husna
Inong Literasi
"Jinan, bangun nak. Shalat subuh dan siap-siap berangkat ke sekolah" Ibu membangunkanku seperti biasanya. Tapi aku lebih memilih kembali menarik selimut sebab cuaca sangat mendukung.
Sisa hujan semalam benar-benar membuatku ingin melanjutkan tidur. Eits! Tapi tunggu dulu, bukanlah hari ini ada pelajaran Seni budaya di sekolah? Dan kegiatan hari ini adalah mewarnai, salah satu kegiatan yang paling kugemari. Aku tidak ingin melewatkannya. Segera ku bergegas. Rasa malas seketika menguap entah ke mana.
Ayah memboncengku dengan sepeda motor tuanya yang masih terawat dengan baik. Soal merawat barang ayah memang ahlinya. Aku ingin seperti ayah. Pernah suatu ketika aku bertanya
"Mengapa ayah tidak mengganti sepeda motor ini dengan sepeda motor baru?"
"Ini adalah pemberian kakekmu, ayah akan berusaha menjaganya semampu yang ayah bisa, sebab sepeda motor ini mengingatkan ayah pada perjuangan kakek, jadi ayah menjadi lebih bersemangat lagi berjuang untuk keluarga kita" jelas ayah panjang lebar. Aku hanya mengangguk, meski tidak benar-benar paham apa maksudnya.
Udara pagi dingin sekali bersebab hujan semalam. Di beberapa pinggiran jalan terdapat genangan air yang mulai surut perlahan diserap tanah. Gerbang sekolah masih sepi saat aku tiba di sana. Itu artinya aku datang lebih pagi hari ini, sungguh kegiatan mewarnai membuat semangatku menjadi berlipat-lipat.
Setelah menyalami guru piket yang selalu setia menyambut para siswa dalam keadaan apapun, aku bergegas ke kelas. Kudapati Raihan sepupuku sudah lebih dulu hadir.
Selang beberapa waktu suara Bu Fatma, wali kelasku terdengar menandai proses pembelajaran akan segera dimulai
"Anak-anak, ibu akan membagikan gambar dan silakan diwarnai dengan cantik dan rapi ya" Bu Fatma memberi aba-aba.
Aku sangat menikmati proses mewarnai, hingga aku mendengar suara sesunggukan dari bangku di belakangku, rupanya itu suara Danin. Ternyata dia tidak membawa pensil warna. Setelah Bu Fatma berhasil menenangkannya, aku berinisiatif meminjamkan untuknya.
Aktifitas mewarnai berjalan lancar. Setiap warna yang kugoreskan pada gambar mampu memberiku semangat baru untuk menghasilkan yang terbaik. Sehingga aku bisa mewakili kelasku untuk mengikuti perlombaan mewarnai yang diadakan sekolah suatu saat nanti.
Dan aku terpilih menjadi sang juara. Aku akan dipanggil ke panggung untuk menerima hadiah dan piala, diiringi gemuruh suara tepuk tangan dari para penonton dan kilauan lampu kamera yang berlomba memotretku. Pasti sangat menyenangkan.
"Jinan" panggilan Danin membuyarkan lamunanku
"Terimakasih banyak ya sudah meminjamkan pensil warna. Tapi maaf ya" lanjutnya membuatku penasaran.
"Maaf untuk apa?" Batinku. Dan apa yang terjadi sungguh mengejutkanku. Beberapa pensil warnaku patah. Aku sedih sekali hingga airmataku tumpah, tangisku pecah tanpa bisa kutahan.
"Mungkin Danin tidak sengaja" pernyataan Bu Fatma semakin membuat rasa sedihku menjadi-jadi. "Nanti, saat Danin dijemput akan coba ibu sampaikan sama bunda Danin ya, biar tidak ada kesalahpahaman"
Dan ternyata, esoknya Danin menggantikan pensil warnaku.Ia memberikan satu set utuh kepadaku.
"Jinan, maafkan aku ya, aku tidak sengaja mematahkan pensil warnamu kemarin" kata Danin
Demi melihat pensil warna itu, tangisku kembali pecah. Danin terlihat bingung. Bu Fatma menenangkanku
"Ada apa Jinan?" Kata Bu Fatma sambil memeluk dan mengelus punggungku.
Bukannya diam, malah tangisku semakin menjadi-jadi.
"Jinan tidak suka pensil warna yang diganti Danin?"
"Bukan" jawabku sambil sesenggukan
"Lalu kenapa?" tanya Bu Fatma lagi
“Pensil warna itu hadiah dari tante dan tante sudah gak ada” hiks hiks tangisku semakin kencang membuatku menjadi pusat perhatian seisi kelas 2 ini.
“maksudnya?” Bu Fatma belum paham maksudku
"Sebenarnya pensil warna itu hadiah dari tantenya saat Jinan sudah menamatkan ngajinya di iqra 6” kali ini Raihan yang menjawab
“Tapi sebulan yang lalu tantenya sudah meninggal karena sakit" lanjut Raihan
Bu Fatma dan seisi kelas terdiam, membawaku pada keheningan akan kehilangan
Kesedihanku menjadi berlipat-lipat sebab aku merasa bersalah tidak bisa menjaga pemberian tante. Dan aku gagal menjadi seperti ayah. Aku merasakan dekapan Bu Fatma semakin erat sembari berbisik di telingaku “Sabar ya, ibu juga pernah merasakan kehilangan” dan kudapati matanya kian berkaca-kaca.
Lomba menulis cerita anak 2026 ‘Ulang Tahun Majalah Cerdas ke 13’

Posting Komentar