Oleh Dewi Ayu Larasati, SS, M. Hum
Tak sabar rasanya, hari ini ingin segera berlalu. Kenapa? Yaaa…karena besok pagi, Dita beserta ayah dan ibu akan pergi berlibur ke rumah nenek di sebuah desa di kawasan Sibolangit. Asyik sekali liburan di rumah Nenek. Selain pemandangan yang sangat indah,udaranya juga bersih dan sejuk.
“Dita…Dita…bangun nak!” suara lembut dan belaian hangat tangan ibu mencoba membangunkan Dita. Dita pun langsung membuka mata, bangun.
Di pagi Minggu yang cerah itu, Dita bersama ayah dan ibu, berangkat dari kota Medan, menuju kawasan Sibolangit, tempat tinggal nenek. Sudah hampir 3 tahun Dita tidak berkunjung ke rumah nenek lantaran jarak yang jauh. Ayah Dita sebelumnya bertugas di negara Qatar.
Dita dan ibu pun tak luput ikut menemani ayah tinggal di negara itu. Di awal tahun ini, mereka kembali ke Kota Medan, tempat asal Dita. Pada liburan Idul Fitri kali inilah Dita dan keluarga, baru bisa memiliki kesempatan untuk berkunjung ke rumah nenek sembari melepas rindu.
Perjalanan ke rumah nenek dari kota Medan memakan waktu sekitar dua jam. Perjalanan ini tentunya tidak terasa melelahkan bagi Dita. Selain tak sabar untuk bertemu segera dengan nenek, di sepanjang jalan Dita juga dapat menikmati begitu banyak pemandangan indah.
Ya, kawasan Sibolangit yang ada di Kabupaten Deli Serdang merupakan daerah dataran tinggi yang terkenal dengan wisata alamnya yang sejuk dan asri. Selain itu, destinasi wisata ikonik ini juga banyak memiliki tempat spot foto yang hits dan instagramable, lo. Maka tak heran jika wisawatan dari berbagai daerah selalu ramai berkunjung ke Sibolangit, khususnya setiap akhir pekan atau masa libur sekolah.
Tepat jam 12 siang, Dita dan keluarga sampai di rumah nenek. Walaupun terbilang rumah lama, rumah nenek tersebut cukup besar dengan taman yang sangat luas. Di samping kanan, terdapat pohon mangga yang berbuah lebat. Dita senang sekali makan buah mangga.
Apalagi mangga itu hasil kebun nenek sendiri. Nah, di bagian belakang rumah nenek, ada juga kebun yang luas, yang ditanami pohon jeruk, kedondong, jambu biji, dan pohon pisang.
Nenek sangat senang melihat kedatangan Dita. “Ooohh…ini Dita ya, cucu Nenek sudah besar dan cantik sekali.” Nenek pun memeluk Dita erat-erat. Tak ketinggalan Tante Saijah, yang merupakan adik Ayah Dita, ikut menyambut.
Ayah dan Ibu Dita langsung sungkem dan bergantian memeluk nenek . Tak lupa Ibu menyerahkan Nenek oleh-oleh dari Medan seperti bika Ambon, kue lapis legit dan pancake durian kesukaan nenek.
“Mari masuk…Sudah waktunya makan siang. Nenek sudah masak yang istimewa buat kalian,” Nenek menambahi.
“Hmm…Jadi nggak sabar ingin segera menuju meja makan, ingin segera menikmati masakan istimewa buatan Ibu!” kata Ayah dengan semangat.
Mereka pun menuju ruang makan untuk segera menikmati masakan nenek. Nenek memang hobi memasak. Memasak apa saja bisa nenek bisa. Dan rasanya pun lezat sekali. Namun menu istimewa nenek kali ini adalah Ikan Arsik. Masakan ini juga merupakan salah satu favoritnya ayah Dita.
Selain itu nenek juga masak ayam goreng, sambal udang dan sayur lalap, dibantu oleh Tante Saijah yang memang tinggal bersama nenek.
Ikan Arsik adalah salah satu makanan tradisional yang berasal dari daerah Sumatera Utara, khususnya suku Batak. Makanan ini terbuat dari bahan dasar ikan mas yang dimasak dengan bumbu khas yang hanya terdapat di daerah pegunungan Sumatera Utara saja,seperti contohnya andaliman dan asam cikala (buah kecombrang).
Bumbu-bumbu spesial inilah yang tentu membuat cita rasa Ikan Arsik ini semakin terasa khas dan istimewa.
Kata “arsik” sendiri berasal dari cara memasak hidangan ini yaitu“mangarsik” yang berarti hidangan ikan disiram-siram atau diguyur dengan bumbu khusus yang telah dihaluskan selama proses memasak. Masakan ini dikenal pula sebagai ikan mas bumbu kuning.
Konon makanan ini sudah ada sejak dahulu kala dan diwariskan oleh nenek moyang mereka secara turun-temurun. Dalam tradisi masyarakat Batak, makanan ini tidak hanya sekadar makanan biasa, namun juga memiliki nilai-nilai dan filosofi tersendiri di dalamnya.
Ikan Arsik biasanya disajikan untuk upacara adat tertentu. Dalam penyajian secara adat, ada tata cara khusus untuk menyajikan makanan satu ini, sehingga tidak boleh dilakukan sembarangan agar tidak menghilangkan nilai kesakralan di dalamnya.
Namun ini bukan berarti makanan ini tidak boleh dikonsumsi untuk sehari-hari. Saat ini, sajian ikan Arsik bisa kita nikmati kapan saja tanpa harus menunggu upacara adat dilaksanakan.
“Dita suka ga ikan arsik buatan Nenek?” tanya Nenek pada Dita yang masih menyantap makan siang.
“Hmm…suka Nek,” jawab Dita.
“Kalau suka, ayo tambah…ayam gorengnya juga belum dimakan,” Nenek pun menyodorkan ayam goreng ke dekat piring makan Dita.
Suasana penuh keakraban di meja makan itu. Apalagi nenek sudah lama tidak bertemu Dita, Ayah dan Ibu. Mereka pun saling bertukar cerita.
“Oh ya Nek, minggu depan Dita mau ulang tahun. Nenek dan Tante Saijah datang ya ke rumah Dita di Medan,” ajak Dita manja kepada nenek dan Tante Neti.
“Wah…cucu nenek sudah mau ulang tahun rupanya. Insya Allah nenek dan Tante Saijah akan datang ke rumah Dita.”
Dita pun bersorak kegirangan.
Setelah makan siang, Tante Neti mengajak Dita untuk melihat kolam ikan di pekarangan belakang rumah nenek.
Di sana terdapat kolam ikan yang luas. Di dalamnya terdapat ikan mujair, gurame, mas, dan lain-lain. Dita pun tampak asyik memberi makan ikan-ikan itu. Ada kenikmatan tersendiri saat memberi makan ikan-ikan itu. Hal ini yang tidak bisa ia dapatkan saat tinggal di kota. Berlibur di rumah nenek benar-benar berkesan bagi Dita.
BIODATA
1. Nama Lengkap : Dewi Ayu Larasati, SS, M. Hum
2. Tempat/ Tgl. Lahir : P. Brandan/ 3 Mei 1979
3. Alamat : Komplek Taman Setiabudi Indah Blok AA No. 26 Medan
4. Jenis Kelamin : Perempuan
5. Agama : Islam
6. Status : Menikah
7. Pekerjaan : Akademisi, Pemerhati Masalah Sosial dan Budaya
8. Telepon : 08116300099
9. E-mail : dewiayularasati0305@gmail.com

Posting Komentar