LUPA RUMAH




Oleh Qanita Thahirah

Pelajar kelas IX SMPIT Muhammad Yasin, Lam Theun, Aceh Besar


Suatu hari di Desa Mangunjaya, Bandung, hiduplah seorang ibu dan anak bernama Eman. Hidup mereka sangatlah susah. Ibunya sudah sangat tua, bahkan berjalan pun tidak sanggup lama.


Suatu saat, Eman mengatakan sesuatu kepada ibunya,

“Ibu... ngomong-ngomong Eman boleh tidak merantau ke kota sebelah? Eman mungkin bisa mencari rezeki di sana. Nanti kalau sudah sukses, Eman akan memberi rezeki yang banyak untuk Ibu,” kata Eman dengan hati yang senang.


Ibunya pun mengizinkan Eman pergi, namun ia berpesan,

“Hmm... kalau begitu Ibu izinkan kamu merantau ke kota sebelah. Tapi Ibu pesan, jangan banyak tingkah, jangan lupa salat lima waktu setiap hari, setelah salat tetap berdoa, dan jangan lupakan Ibu ya, Nak...” ujar sang ibu.


Setelah berbincang lama, akhirnya Eman pun berangkat dan pamit kepada ibunya di sore hari. Seiring berjalannya waktu, Eman menjadi orang yang sukses dan kaya raya. Tanpa diketahui ibunya, Eman ternyata sudah menikah dan memiliki istri yang cantik.


Suatu hari, Eman dan istrinya berlayar menggunakan kapal besar dan mewah menuju Desa Mangunjaya, tempat tinggal lamanya bersama sang ibu. Sesampainya di sana, mereka turun dari kapal dan berjalan ke pasar yang berada di dekat pelabuhan.


Tiba-tiba, ibunya melihat keberadaan mereka berdua. Ia langsung memanggil Eman dengan suara lantang,

“Anakku! Eman! Ibu merindukanmu, Nak!” katanya sambil berlari untuk memeluknya.


Namun, istri Eman justru berkata,

“Eh? Ini siapa, Man? Ibumu? Katanya beliau sudah meninggal?”

Eman pun menjawab dengan marah,

“Ah! Siapa wanita tua ini! Tiba-tiba memelukku! Aneh sekali! Ibuku sudah meninggal, tidak ada lagi di dunia ini! Awas!”


Eman bahkan mendorong tubuh ibunya hingga terjatuh ke tanah dengan tega, merasa malu karena ibunya berpakaian lusuh dan compang-camping.


Setelah itu, Eman dan istrinya pergi meninggalkan desa dan kembali berlayar. Sementara itu, ibunya pulang dengan hati yang sangat sedih dan trauma. Ia kemudian berdoa kepada Allah,

“Ya Allah, jika ia benar anakku, namun tidak mengakui aku sebagai ibunya, maka tunjukkanlah kekuasaan-Mu. Jadikan ia sadar atas kedurhakaannya, agar ia merasakan akibat dari perbuatannya. Aamiin.”


Di tengah laut, Eman dan istrinya memasuki wilayah yang belum pernah mereka kunjungi sebelumnya—sebuah daerah yang sangat berbahaya dan dilarang untuk dimasuki. Laut di sana gelap, di tepi pantainya dipenuhi ular berbisa, terutama ular kobra, dan di bawah laut terdapat banyak ikan piranha.


“Istri: Eman! Kamu salah jalan, kan? Kenapa daerahnya gelap begini? Lihat itu banyak ular kobra di pohon! Dan di laut ada ikan mematikan! Takutnya mereka menggerogoti kapal kita!”


Istrinya sangat ketakutan hingga tanpa sadar berada di pinggir kapal. Tiba-tiba ia terjatuh ke laut.

“Eman! Tolong aku!” teriaknya.

“Istriku! Tidak!! Tolong!”

Namun semuanya terlambat. Ikan-ikan piranha dengan cepat menghabisi tubuh istrinya.


Eman sangat menyesal dan sedih. Namun ia tetap melanjutkan perjalanan. Ia tidak tahu bahwa siapa pun yang memasuki wilayah itu tidak bisa keluar tanpa syarat tertentu. Meski gelisah, Eman tetap sombong dan percaya kapal mewahnya mampu menahan bahaya.


“Tenang saja! Kapal ini besar dan kuat! Pasti aman! Hahaha!” katanya sombong.

Namun, kapal itu perlahan mulai rusak dan tenggelam. Kayunya tidak sekuat yang ia kira. Ombak besar dan cuaca buruk membuat keadaan semakin parah.



“Semoga aku selamat! Aku tidak mau mati!” teriak Eman.

Tiba-tiba ia merasa ada yang menyentuhnya dari belakang.

“Siapa itu?”

“Duar! Haha, kamu mau ke mana, anak muda? Kamu tidak bisa lari dariku!” ujar sosok misterius.


“Pergi kamu! Pria tak berguna!” bentak Eman.

Sosok itu menghilang. Kapal semakin tenggelam. Eman mencoba menyelamatkan diri, namun ikan piranha melompat dan menggigit kakinya. Ia menjerit kesakitan.


“Tolong! Siapa pun tolong aku!”

Namun tidak ada yang menolong. Sosok misterius tadi hanya muncul sesaat lalu menghilang kembali.


Akhirnya, Eman meninggal dunia setelah tubuhnya digerogoti ikan-ikan tersebut. Kapalnya pun tenggelam sepenuhnya di tengah badai.



Pesan:

Jangan mendurhakai orang tua dan jangan bersikap sombong.

0/Post a Comment/Comments

Iklan