Lima Menit Lagi, Buka Pintu Pagar Ya Nak!

                                          



Oleh  Ismaidar, S. Pd, M. Pd                                                   Guru MIN 1 Kota Banda Aceh               


Hari raya usai dengan senyum yang masih tersisa, ketupat dan doa belum sepenuhnya hilang dari rasa.

Di perjalanan pulang, mereka bercerita,

tentang empat anak yang menunggu di rumah tercinta. Langit mulai redup, jalanan kian sunyi,

namun hati mereka hangat oleh rindu yang pasti.

“Lima menit lagi, Nak… buka pintu pagar ya,”

pesan sederhana penuh cinta yang tak terduga akhirnya jadi luka.

Di tikungan yang sepi, di detik yang tak berpihak, takdir bergerak tanpa aba-aba, tanpa jejak.

Dan Sungai Lae Kombih pun menjadi saksi bisu,menelan harapan, menutup jejak yang tak lagi bertemu.

Mobil itu hilang dalam diam, air mengalir tanpa pernah memberi jawaban.

Tak ditemukan raga, tak terdengar kabar,

hanya doa-doa yang terbang di antara kabut dan sabar.

Di rumah, pagar telah lama terbuka,

empat anak kecil memeluk harap yang sama.

Menatap jalan dengan mata yang mulai lelah,

menunggu cahaya lampu yang tak pernah menyala.

“Mama… Papa…?”

suara itu jatuh di lantai malam yang dingin,

menggema, lalu hilang bersama angin.

Hari demi hari berubah jadi kehilangan,

namun cinta tak pernah benar-benar tenggelam.


Di setiap sujud kecil mereka yang polos,

terselip doa yang tak pernah putus.

Semoga suatu saat keajaiban datang,

membelah waktu, mengalahkan jarak yang panjang.

Agar pintu itu kembali diketuk perlahan,

dan empat hati kecil itu mendapat pelukan.

Jika pun sungai menyimpan rahasia,

biarlah Tuhan menjaga mereka di sana.


Dan sampai hari itu benar-benar tiba,

empat anak itu akan tetap percaya

bahwa cinta akan selalu menemukan jalannya pulang, meski harus melewati duka yang paling dalam.

0/Post a Comment/Comments

Iklan