Lembah Sabil, Lumbung Cengkeh Manggeng yang Pernah Berjaya


Ilustrasi oleh AI

Oleh Tabrani Yunis


Siang ini, ayah sedang menikmati segelas kopi Arabica Gayo di sudut kanan, Gerobak Arabica Coffee yang letaknya hanya beberapa meter dari POTRET Gallery. Ketika menyeruput kopi, ayah tiba-tiba membayangkan tanah kelahirannya di Manggeng, Aceh Barat Daya.


Ingatan ayah tak ingin dilewati dan dikenang sendiri. Ayah pun memanggil Ananda Nayla, Aqila Azalea dan Arisya Anum untuk duduk bersama ayah di Gerobak coffee.


Ananda Nayla datang lebih dahulu, lalu diikuti oleh Aqila Azalea dan Arisya Anum.  Ananda Nayla dan Aqila Azalea duduk berhadapan dengan ayah. Sementara Arisya duduk di samping ayah.  Lalu ayah memulai pembicaraan.


Nak! Ayah memanggil kalian bertiga, karena ayah ingin berbagi cerita masa lalu tentang kampung halaman, tempat kelahiran ayah di Manggeng, Aceh Barat Daya.


Emangnya ayah mau cerita apa? Tanya Arisya. 

Tentang sebuah kisah masa-masa jaya di kampung ayah. 

Ooooo begitu. Kata Nayla. Ayolah ayah, ceritakan pada kami. Pasti banyak pembelajaran dalam cerita itu, ya kan ayah? Tanya Aqila Azalea


Dulu sewaktu ayah masih bersekolah di SD sekitar tahun 1970 an, ayah bersama nenek dan kakek kalian, pernah tinggal di kebun cengkeh di Lembah Sabil. Kala itu Lembah Sabil masuk ke wilayah Manggeng. Sekarang Lembah Sabil sudah menjadi kecamatan tersendiri.


Lembah Sabil itu adalah nama sebuah gunung yang berbukit-bukit. Di gunung itu, masyarakat Manggeng yang memiliki tanah di Lembah Sabil, ramai-ramai menanam cengkeh. Seluruh bukit dan lembah penuh dengan tanaman cengkeh. Sehingga Manggeng saat itu dikenal dengan lumbung cengkeh.


Ayah masih ingat kala itu, ketika ayah dan kakek serta nenek kalian tinggal di sebuah gubuk kecil di Lembah Sabil itu. Setiap pagi ayah memilih cengkeh yang jatuh ke tanah, ayah kumpulkan dan kemudian ayah jual. Uangnya ayah simpan untuk bisa membeli alat-alat tulis, dan baju untuk sekolah. Juga bisa menjadi uang jajan.


Ayah tidak punya kebun cengkeh, tetapi Uwak, abang dari Ibu ayah yang punya kebunnya. Ayah hanya menumpang di pondok tersebut, karena ayah dan Nenek serta kakek tidak punya rumah.  Jadi setiap hari di musim cengkeh berbunga, menjadi kesempatan bagi ayah untuk mengutip cengkeh yang luruh, dikumpulkan dan dijual. Ayah tidak boleh memetik yang ada di dahan, karena itu bisa dituduh mencuri. Kalau memilih bunga yang gugur, dibolehkan.


Ketika panen cengkeh, ayah setiap pulang sekolah mendatangi kebun cengkeh orang mengambil upah memetik cengkeh. Ayah memanjat pohon cengkeh dan memetiknya. Setiap hari bisa sampai dua goni. Ayah mendapat upah dalam bentuk cengkeh yang diberikan oleh pemilik kebun cengkeh. Alhamdulillah ayah bisa menabung dan membayar uang sekolah sendiri.


Nah, para pemilik kebun cengkeh di Manggeng saat itu sangat bahagia. Sebab hasil panen cengkeh mereka bisa membuat mereka kaya dan bisa hidup makmur dan sejahtera. Banyak yang bisa membangun rumah besar-besar dan juga bisa membeli kendaraan roda dua dan roda empat. Ya, banyak orang Manggeng menjadi kaya.


Ayah pun menggeluti kegiatan dan pekerjaan sebagai pemetik cengkeh hingga sampai selesai bersekolah di SMP Negeri 1 Manggeng. Sebab, pada tahun 1979 ayah merantau ke Banda Aceh melanjutkan sekolah untuk mengubah nasib.


Lalu, apa yang terjadi kemudian, pada tahun 1990 an, harga cengkeh yang mahal tiba-tiba merosot, karena ada aksi monopoli cengkeh saat itu. Ya, monopoli cengkeh era Soeharto (1990-an) dikendalikan melalui Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang dipimpin oleh Tommy Soeharto. 


Kebijakan itu mewajibkan petani menjual cengkeh ke BPPC dengan harga rendah, sementara pabrik rokok membelinya dengan harga tinggi. Praktik ini menyebabkan kerugian petani, salah manajemen, dan dugaan korupsi dana ratusan miliar rupiah sebelum akhirnya BPPC bubar tahun 1998


Monopoli itu membuat para petani cengkeh kecewa dan putus asa. Akibatnya para petani cengkeh saat itu tidak bersemangat lagi menanam cengkeh. Bahkan, kebun cengkeh mereka yang sudah ada saja, tidak mereka kelola lagi. Mereka biarkan terlantar sehingga akhirnya Lembah Sabil yang merupakan lumbung cengkeh menjadi lembah sunyi, karena tidak lagi dipedulikan oleh para petani.


Wah! Sayang sekali ya Ayah! kata Arisya dengan wajah ikut sedih. 


Ya, memang sangat disayangkan Nak. Kalian bisa bayangkan berapa banyak petani kemudian kehilangan penghasilan karena cengkeh mereka sudah sangat murah dan tidak ada lagi yang mau membeli. Semoga saja praktik monopoli seperti ini tidak terjadi lagi terhadap produk para petani kita.


Nah, begitu nak ceritanya. Ayah bahagia bisa menceritakan ini pada kalian, agar kalian bisa belajar dari pengalaman masa kecil ayah.

0/Post a Comment/Comments

Iklan