Jejak di Pasir Waktu

 


Ilustrasi oleh AI

Oleh Tabrani Yunis


Di sebuah desa pesisir bernama Pasie Raja, yang juga disebut dengan Terbangan, hiduplah seorang anak bernama Rafi. Ia suka bermain di pantai setiap sore, menggambar kapal dan benteng di pasir. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain pasir. ombak besar datang dan menghapus semua gambar Rafi. Ia sedih, tapi ayahnya tersenyum dan berkata,


“Nak, seperti pasir yang berubah, sejarah juga bisa hilang kalau tidak kita jaga.”


Rafi bingung. “Maksud ayah, sejarah bisa hilang?”

Ayah mengangguk. “Ya, kalau kita tidak belajar dan menceritakannya.”


Ada banyak pelajaran dari masa lalu dari banyak peristiwa di kampung kita. Jelas ayah.


Ayah lalu bercerita tentang Inong Cuma Fatimah, seorang pemimpin perempuan dari Pasie Raja yang berani melawan penjajah.

“Dulu, orang-orang di sini berjuang mempertahankan tanah mereka. Mereka tidak punya senjata canggih, tapi punya keberanian dan cinta pada negeri,” kata ayah.


Rafi terdiam. Ia membayangkan Inong Fatimah berdiri di tepi pantai, memimpin rakyatnya dengan semangat.


Nah, cerita tentang Inong Cuma Fatimah meberikan kita pelajaran penting yanh juga menjadi warisan yang hidup dalam pengetahuan kita. Lalu, ketika kita belajar tentang sejarah Inong Cuma Fatimah, kita juga bisa tahu apa yang  terjadi tentang keberanian perempuan masa lalu.


Keesokan harinya, Rafi ikut melihat pertunjukan Rapai dan Tarian Ranup Lampuan di balai desa. Ia kagum melihat orang-orang menari dan menabuh gendang dengan penuh semangat.

“Ini juga bagian dari sejarah kita,” kata ibu. “Setiap gerakan dan irama menyimpan cerita tentang siapa kita.”


Rafi mulai mengerti: sejarah bukan hanya tentang perang dan raja, tapi juga tentang lagu, tarian, dan kebersamaan.


Nah, ingat Nak, lanjut ayah lagi. Kalau Rafi rajin membaca buku-buku sejarah Rafi akan kaya dengan pengetahuan masa lalu. Rafi juga akan bisa menulis cerita menarik tentang sejarah kampung kita. Misalnya, Ujung Bate, Kampung dikelilingi Gunung-gunung Batu.


Rafi rupanya termotivasi dengan apa yang dikatakan ayah, lau Rafi pun menulis di buku catatannya:


“Aku ingin menjadi penjaga sejarah Pasie Raja.”


Ia mulai mewawancarai kakek dan nenek di kampung, mencatat cerita lama, dan menggambar peta tempat bersejarah. Ia bahkan membuat mini pameran di sekolahnya berjudul “Jejak di Pasir Waktu.”


Guru dan teman-temannya kagum. “Rafi, kamu membuat sejarah hidup kembali!” kata mereka.


Pesan Cerita


Sejak hari itu, Rafi tahu bahwa belajar sejarah bukan hanya mengingat masa lalu, tapi menjaga cahaya agar masa depan tidak gelap.

Ia berkata kepada teman-temannya,


“Kalau kita tahu dari mana kita berasal, kita tahu ke mana kita harus pergi.”

0/Post a Comment/Comments

Iklan