Oleh Maghfirah , S.Pd Gr
Guru SMK Negeri 1 Gandapura
Di sebuah desa yang subur di kaki pegunungan Bireuen Paya Seupat, hiduplah seorang gadis kecil bernama Cut Dara. Desa itu bak lukisan alam yang tak pernah pudar warnanya; sawah membentang seperti permadani hijau yang disulam angin, dan suara azan dari meunasah mengalun lembut merasuk ke relungkalbu. Namun, di balik keasrian itu, sebuah "ombak baru" sedang menerjang: ombak teknologi.
Pesona Layar yang Menyilaukan
Sama seperti anak-anak lain di zamannya, Cut Dara memiliki sebuah kotak ajaib bernama ponsel pintar. Baginya, layar itu adalah jendela dunia yang lebih berkilau daripada binar bintang di langit Lhokseumawe.
Setiap hari, jemarinya menari lincah di atas kaca, berpindah dari satu video ke video lain, hanyut dalam arus informasi yang tak bertepi.
Namun, perlahan-lahan, Cut Dara mulai melupakan "dunia nyatanya". Ia tak lagi duduk bersimpuh mendengarkan neneknya bercerita tentang kepahlawanan Cut Nyak Dhien atau hikayat para raja Aceh.
Baginya, permainan di layar lebih menantang daripada belajar menyulam Pinto Aceh yang rumit. Matanya lebih sering menatap cahaya biru ponsel daripada menatap wajah ramah tetangga yang lewat di depan rumah.
Debu Digital yang Mengaburkan Pandangan
Suatu sore, suasana di rumah Cut Dara memanas. Ibunya baru saja pulang dari pasar dengan nafas terengah, membawa belanjaan berat.
"Dara, bantu Ibu sebentar, neuk(panggilan tuk anak). Tolong rapikan pukat jemuran di belakang," pinta Ibunya lembut.
Data bergeming. Matanya terpaku pada tantangan game terbaru. "Sebentar, Bu! Sedikit lagi Dara menang!" jawabnya ketus tanpa menoleh.
Ibu menghela nafas panjang, sebuah desahan yang beratnya melebihi beban belanjaan di tangannya. Kejadian itu terus berulang. Dara menjadi pribadi yang tertutup, mudah marah jika sinyal melambat, dan sering menyebarkan berita-berita dari internet yang belum tentu benar kepada teman-temannya.
Ia seolah tersesat dalam hutan digital, kehilangan kompas kearifan lokal yang mengajarkan peumulia jamee (memuliakan tamu) dan hormat kepada orang tua.
Hikmah di Bawah Pohon Seulanga
Puncaknya terjadi saat Dara tanpa sengaja mengunggah sebuah video yang mengejek teman sekelasnya karena kesalahan kecil. Video itu menjadi viral di grup sekolah. Dara merasa bangga karena mendapat banyak "suka", namun ia tak menyadari bahwa ia baru saja menebar racun di hati temannya.
Malamnya, Nenek mengajak Dara duduk di teras rumah. Angin malam membawa aroma bunga Seulanga yang harum mewangi. Nenek tidak memarahi Dara, ia hanya menyodorkan sebuah kopiahMeukeutop(Kopiah khas Aceh) yang sedang ia jahit.
"Dara, lihatlah motif ini," ujar Nenek lirih. "Setiap sulaman ini melambangkan keteguhan dan kebijaksanaan. Teknologi itu seperti parang parang Rencong. Jika dipegang oleh pendekar yang bijak, ia melindungi. Jika dipegang oleh anak yang lalai, ia akan melukai diri sendiri dan orang lain."
Nenek lalu menunjukkan foto temannya yang sedang menangis karena video unggahan Dara. Hati Dara bak disambar petir di siang bolong. Rasa bangganya runtuh seketika, berganti dengan rasa sesak yang menghimpit dada.
Menjadi Pendekar Digital yang Bijak
Keesokan harinya, Dara melakukan sesuatu yang berani. Ia tidak membuang ponselnya, melainkan mengubah cara ia menggunakannya. Ia menghapus video tersebut dan mengunggah video permintaan maaf yang tulus.
Lebih dari itu, Dara menggunakan kecakapannya berteknologi untuk hal yang mulia. Ia mulai merekam Neneknya yang sedang bercerita hikayat, memotret keindahan sulaman khas Aceh, dan membagikannya ke dunia luar dengan pesan-pesan kebaikan.
Ia belajar membedakan mana berita asli dan mana yang hanya"debu digital" (hoax).
Dara kini paham, teknologi adalah jembatan, bukan dinding. Ia tetap bisa menjadi anak masa kini yang canggih tanpa haruskehilangan jati dirinya sebagai putri Aceh yang santun.
Cahaya yang Tak Lagi Menyilaukan
Beberapa bulan kemudian, Dara memenangkan lomba konten kreatif tingkat provinsi dengan video berjudul "Adat Bak Po Teumeureuhom, Hukom Bak Syiah Kuala" (Adat pada penguasa, Hukum pada ulama). Dalam video itu, ia menampilkan harmoniantara teknologi dan budaya.
Sore itu, saat matahari terbenam dengan warna jingga yang hangat, Dara meletakkan ponselnya di atas meja. Ia menghampiri Ibunya yang sedang melipat kain.
"Ibu, mari Dara bantu," ucapnya tulus sambil memeluk pundakIbunya.
Ibu tersenyum, matanya berkaca-kaca penuh syukur. Di bawahlangit Aceh yang damai, Dara telah menemukan cahaya yang sesungguhnya—bukan cahaya dari layar ponsel yang menyilaukan, melainkan cahaya kebijaksanaan yang memancardari hati yang tahu cara menghargai sesama dan budayanya. Teknologi di tangannya kini bukan lagi beban, melainkan lenterayang menerangi jalan menuju masa depan yang gemilang.
Penulis: Maghfirah , S.Pd Gr
Guru SMK Negeri 1 Gandapura

Posting Komentar