Cah Brebes (4)

 



Cermin: Kang Thohir

  

Bahwa permainan tradisional bisa membawa ketenangan batin juga. Selain bermain juga ada yang namanya persahabatan yang melekat dengan saling mengingatkan, dan ketika berangkat ke sekolah pun juga saling menghampiri ke rumah satu sama lain.

 Erik dan Thohir contohnya adalah dua persahabatan juga berawal dari sekolah dan bermain tradisional pada masa-masa itu, sebelum ada gadget atau HP seperti era zaman sekarang, yang sangat digandrungi oleh orang-orang pada umumnya.

 

Masa-masa dulu di Brebes adalah masa-masa anak-anak yang suka bermain di sawah dan juga bermain di lapangan, bahkan di halaman rumah, seperti bermain bola dan bermain sakti-saktian atau hompimpah. Semuanya itu begitu menyenangkan, dan indah di pandang oleh mata. Akan tetapi, anak-anak zaman sekarang malah sibuk bermain HP dan sibuk bermain game, sehingga malas untuk bermain langsung, dan bahkan tak mengenal permainan tradisional itu di masa sekarang.

 

Sebagaimana orang terlalu bergantung pada alat teknologi, yang semakin canggih ini, maka orang-orang akan semakin malas untuk berkerja secara nyata. Karena sudah digunakan atau diganti dan dipekerjakan oleh mesin teknologi, bahkan robot sekalipun. 


Apalagi sekarang banyak bermunculan yang namanya teknologi buatan atau si AI, yang apa-apa bisa gampang dicari datanya dengan singkat tur padat, dan bisa digunakan untuk apa saja. Namun, secanggih-canggihnya teknologi di era zaman sekarang, tak bisa mengulang kenangan masa-masa itu dan perasaan-perasaan masa-masa itu, yang penuh kenangan, kesejukan, kedamaian, kerukunan, dan juga kreativitas dengan alat sederhana pun jadi. Bahkan lebih menyenangkan dan bangga atas jerih payahnya itu. 

 

Cerita Erik dan Thohir, dua bocah berasal dari Brebes, yang begitu melekat dengan cerita perdesaan yang ada di kabupaten Brebes. Mereka adalah dua yang sehari-harinya bermain di sawah dan bermain alat-alat tradisional pada masa-masa itu. Namun, sekarang sudah jarang digunakan, dan bahkan sudah punah seiringnya zaman. 

*

"Rik, ayo kita pulang yuk! Sudah mulai sore nih!" seru si Thohir pada Erik untuk mengajaknya pulang. Sambil menatap kondisi dan keadaan, yang semakin mensore dan ditambah lagi senja yang semakin jingga bercumbu pada samudra dan menenggelamkan matahari.  

"Oh, ya udah kita pulang. Tapi, kita gulung dulu senarnya dan turunkan layangannya, ya. Baru kita pulang bersama-sama," ujar si Erik. 

Sambil mempersiapkan untuk pulang dengan mengelun senar dan merapikan layangannya untuk dibawa pulang.

"Oke, Rik. Nanti pulangnya jangan lewat ke kuburan ya, Rik, soalnya aku takut. Di dekat rumahnya Haji Topik yang megah itu, 'kan di belakangnya ada kuburan juga, Rik." 

"Nanti kita pulangnya lewat jalan lapaknya Hajah Atun aja kok, Hir. Tenang ajalah

 

"Oke, Rik, kalau begitu. Hehehe."

 

 

 

Bersambung ...

 

0/Post a Comment/Comments

Iklan