Ilustrasi oleh AI
Oleh Teuku Masrizar
Di sebuah negeri yang subur di tepi Samudera Indonesia, hiduplah anak bernama Raya. Ia tinggal di Trumon, sebuah kampung yang dulu dikenal sebagai Teureumon, artinya “terong di dekat sumur.” Nama itu bukan sembarangan—karena tanahnya subur, airnya jernih, dan terong tumbuh besar di samping sumur!
Suatu hari, Raya bertanya kepada kakeknya, “Kakek, kenapa Trumon disebut negeri terong dan sumur?”
Kakek tersenyum, lalu bercerita. “Dulu, Trumon adalah negeri yang makmur. Kapal-kapal besar bernama Laxami dan Dyana berlayar membawa lada, damar, dan karet ke negeri-negeri jauh. Pedagang dari Arab, Eropa, dan China sering singgah di sini. Mereka berdagang, mengisi air, dan menikmati cahaya bulan yang indah. Mereka menyebutnya Truemoon, bulan sejati.”
Raya membayangkan malam berbintang, pasir berkilau, dan kapal-kapal asing bersandar di pantai. “Wah, Trumon hebat sekali!”
Kakek mengangguk. “Bukan hanya perdagangan, Trumon juga punya uang sendiri, punya kampung seni bela diri bernama Naca, dan tempat belajar agama. Orang-orang dari berbagai suku datang dan hidup bersama.”
Raya lalu bertanya, “Sekarang Trumon masih hebat, ya Kek?”
Kakek menjawab, “Tentu, Nak. Sekarang kita punya sekolah, mobil, dan rumah yang kokoh. Tapi kemakmuran itu harus dijaga. Kita harus belajar, bekerja sama, dan menjaga alam. Kalau kita hanya mengambil tanpa merawat, alam bisa marah.”
Raya pun berjanji dalam hati: ia akan belajar giat, mencintai kampungnya, dan suatu hari nanti, membawa Trumon kembali bersinar di bawah cahaya Truemoon.

Posting Komentar