Teuku Peukan dan Semangat Rakyat Manggeng


Ilustrasi oleh AI


Oleh Tabrani Yunis


Sahabat Popon dan Nyanyak yang rajin membaca dan cerdas. Hari ini matahari terlihat sendu. Cahayanya agak temaram. Padahal belum malam, tapi sahabat semua, temaram matahari bukan pula membuat semangat kita buram. Sebentar lagi matahari juga akan cerah kembali.


Begitu juga dengan sahabat semua, jangan biarkan semangat meredup hingga hilang semangat belajar. Kita harus selalu bersemangat dan optimis dalam belajar. Salah satu cara belajar adalah lewat kegiatan membaca. Apakah sahabat semua rajin membaca?


Hmmm, pasti dong ya. Namanya saja sahabat Anak Cerdas. Sudah pasti rajin dan banyak membaca. Siapa saja yang banyak membaca, pasti pengetahuannya sangat banyak dan luas.


Eh, ngomong-ngomong, selama ini apakah sahabat semua rajin membaca sejarah? Ya, harus rajin lah ya. Sebab kalau kita tidak membaca sejarah, kita tidak tahu tentang segala peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di daerah kita dan juga di Indonesia serta di dunia.


Hari ini, Popon dan Nyanyak baru saja membaca sebuah cerita tentang pahlawan lokal di Aceh, yang namanya sudah cukup terkenal. Seorang pahlawan yang pernah ada dalam garis perjuangan membela negara dalam melawan para penjajah.


Ceritanya begini.

Dahulu di masa negeri kita dijajah oleh penjajah Belanda, di kecamatan bernama Manggeng, hiduplah seorang ulama pemberani bernama Teuku Peukan. Teuku Peukan, lahir di Sawang, Aceh Selatan, pada tahun 1886 dan menetap di Manggeng. Beliau adalah seorang ulama dan pejuang Aceh.


Sehari-hari, beliau memakai sorban putih dan baju panjang. Beliau selalu mengajarkan kebaikan dan keberanian kepada anak-anak dan orang dewasa.


Suatu hari, tentara Belanda datang ke Aceh. Mereka ingin menguasai tanah dan merampas kebebasan rakyat. Tapi Teuku Peukan tidak tinggal diam. Beliau berkata:


“Kita harus menjaga tanah kita, iman kita, dan martabat kita!”


Dengan  penuh semangat, Teuku Peukan  berbekal ilmu agama yang diturunkan dari  ayahnya, Teungku Adam, seorang ulama kharismatik dan ibunya Siti Zulaikha, beliau mengajak rakyat Manggeng untuk bersatu. Mereka belajar, berdoa, dan bersiap melindungi kampung mereka. Anak-anak pun ikut membantu dengan menyampaikan pesan dan menjaga semangat orang tua mereka.


Lalu apa yang terjadi kemudian, pada tanggal 11 September 1926, Teuku Peukan memimpin perlawanan untuk mempertahankan tanah air dan agama di Blangpidie. Teuku Peukan  dalam

Perlawanan itu  gugur, mati syahid. Namun semangatnya tidak pernah padam. Rakyat Manggeng, bahkan rakyat Aceh tetap mengenangnya sebagai pahlawan yang berani dan beriman.


Teuku Peukan dalam sebuah literatur dikabarkan bahwa beliau dimakamkan di depan masjid Jamik Baitul Adhim, Blangpidie. Namun, selama ini ada tugu peringatannya yang berada di desa Meurandeh, Manggeng ( kini masuk wilayah Kecamatan Lembah Sabil).


Jadi bila suatu saat sahabat semua mau berziarah ke makam Teuku Peukan, sahabat semua bisa ziarah ke makam Teuku Peukan, makamnya ada di depan masjid Jamik Baitul Adhi, Kecamatan Blang Pidie yang letaknya lebih kurang 20 kilometer dari  Manggeng.


Untuk mengenang jasa kepahlawanan Teuku Peukan, kini namanya dikenang di RSUD Teuku Peukan, rumah sakit yang melayani masyarakat Aceh Barat Daya berobat.


Nah, begitulah cerita bersejarah tentang Teuku Peukan yang Popon dan Nyanyak ceritakan. Semoga sahabat semua bisa mengambil pelajaran atau hikmah dari kisah pahlawan dari Manggeng.


Berikut adalah Pesan Cerita yang bisa kita petik.


• Jadilah anak yang berani membela kebaikan.

• Belajarlah dari ulama dan orang tua yang bijak.

• Ingatlah bahwa iman dan keberanian adalah kekuatan sejati.


0/Post a Comment/Comments

Iklan