SENYUM ALVIN



Oleh. Hanafabdu


Pagi itu nampak pucat, dibalut mendung yang menggantung tak beraturan. Perubahan cuaca yang tidak menentu membuat langit sulit ditebak, serupa riuh rendah di hati Alvin, bocah kelas 5 SD yang kini duduk mematung. Matanya menatap lurus ke papan tulis yang dipenuhi oleh angka-angka, namun jemarinya bergeming. Tak ada buku, tak ada pensil. 


Alvin adalah penghuni setia kesunyian. Ia memilih bangku paling belakang, sepertinya ia tak ingin terusik. Hinaan baginya hanyalah angin lalu, bahkan ketika keisengan teman-temannya mulai melampaui batas. Seperti saat Faza hendak mendaratkan jitakan di kepalanya; Alvin hanya menahan tangan itu dengan gerakan lembut. 


Hanya Bu Mega yang marah, menghujani Faiza dengan nasihat panjang lebar, sementara Alvin kembali ke dunianya, tetap dengan senyum yang sama, tanpa dendam.


Saat bel pulang membahana, Alvin bergegas. Di sebuah gubuk sederhana, Mak telah menanti. Meski hanya ibu sambung, kasih sayangnya adalah dermaga paling teduh bagi luka yatim piatu Alvin. 


Dalam keterbatasan hidup, mereka saling menguatkan. Setelah menyantap nasi putih berbumbu garam, Alvin mencium tangan Mak dengan takzim, lalu kakinya yang kecil berlari menuju pasar.


Di sana, Alvin bagaikan bayangan lincah di antara tumpukan piring berminyak dan gelas-gelas kopi yang menghitam. Banyak yang menawarkan tempat kerja tetap karena kagum akan kegigihannya, namun Alvin selalu menolak dengan gelengan sopan. Hanya dia yang tahu sebabnya. 


“Alvin, kapan kamu berhenti, Nak? Upah Mak mencuci masih cukup untuk sesuap nasi kita,” ujar Mak suatu sore. Alvin tak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menyodorkan beberapa lembar uang kumal hasil peluhnya ke telapak tangan Mak. 


Makhanya bisa menyimpan uang itu dalam tabungan. Ia tidak ingin uang hasil kerja anaknya itu habis bergitu saja.

###

 

Awan mendung seolah turun dan mengendap di pundak Alvin. Sore itu, sebuah teriakan melengking memecah hiruk-pikuk pasar. Seorang ibu paruh baya dengan wajah merah padam mencengkeram kerah baju kumal Alvin.


"Mana uangku?! Tadi cuma kamu yang ada di dekat situ!" teriakibu itu, menarik perhatian orang-orang seisi pasar.

Alvin terpaku. Ia hanya menggeleng pelan. Namun, nasib sedang tak berpihak. Seseorang menunjuk kantong celana Alvin yang nampak menonjol.


"Buka kantongmu! Dasar pencuri kecil!" desak massa yang mulai berkerumun.

Alvin terpojok. Ia dipaksa merogoh kantongnya. Saat uang-uang receh itu jatuh ke tanah, ibu tadi langsung menyambarnya. "Lihat! Ini uangku!" Meski jumlahnya jauh lebih sedikit dari yang hilang, fitnah itu terlanjur dipercaya orang-orang. Alvin dipaksa membayar sisa "kekurangan" uang yang dituduhkan kepadanya. Hari itu, bukan hanya uangnya yang ludes, tapi juga kepercayaan yang ia bangun dengan keringat bertahun-tahun.


Kejadian itu, menjadikan atmosfer pasar tak lagi hangat bagi Alvin. Warung-warung kini memasang wajah dingin. Namun, di antara tatapan penuh selidik, masih ada tangan-tangan baik yang tetap percaya Alvin. 


Meski peluangnya menyempit, Alvin tetap tegak dalam kejujuran yang sunyi.

Ujian seolah datang bertubi-tubi. Di rumah, Mak jatuh sakit. Demam tinggi membuatnya hanya mampu terbaring pasrah di atas balai-balai bambu yang mulai melapuk. 


Kondisi ekonomi yang kian mencekik memaksa Alvin menjadi pelindung utama bagi nasib mereka. Ia harus pandai-pandai membagi waktu; antara membasuh kening Mak yang panas dan memburu kepingan koin di pasar yang kian menutup diri.


Keadaan ini memaksa Alvin menantang malam. Ia baru melangkah pulang saat embun mulai turun, mendapati Mak masih terjaga dalam batuknya yang menyesakkan dada.


“Alvin... kenapa sampai selarut ini, Nak?” tanya Mak parau. 

Alvin hanya diam. Ia meraih tangan Mak yang panas, lalu menciumnya dengan takzim. Di balik bibirnya yang terkunci, Alvin melangitkan janji kepada Tuhan; bahwa ia akan memikul beban ini sendirian, asalkan Mak tetap sehat.


Melihat perkembangan Alvin yang semakin mengkhawatirkan, Mak memutar otak. Ia ingin kasih sayangnya benar-benar utuh; ia ingin Alvin tumbuh sewajarnya—kembali belajar dan tekun mengaji. Maka, Mak pun merangkai sebuah siasat.


Dekap malam kian kelam. Ketika suara derit pintu kayu terdengar, Mak segera memejamkan mata, berpura-pura terbatuk keras dengan raut wajah yang menanggung sakit teramat sangat—meski sebenarnya demamnya telah berangsur pulih.


"Alvin, kamu baru pulang, Nak?" suara Mak terdengar sangat lirih. 

"Kamu mau Mak sehat, atau membiarkan Mak tetap sakit seperti ini?"

Alvin segera menghampiri, duduk bersimpuh di samping balai-balai. Matanya yang lelah menatap Mak dengan cemas. 

"Mak harus sehat..." akhirnya, suara itu pecah juga.

"Kalau Alvin mau Mak sehat, ambillah Al-Qur'an itu, Nak. Mak bermimpi bahwa Mak akan sembuh jika Alvin mau membacakannya di samping kepala Mak."

Tanpa ragu, Alvin mengangguk cepat. "Alvin mau, Mak. Asalkan Mak sembuh."

###

 

Fajar menyingsing pelan, mengiringi hiruk-pikuk di sebuah desa dengan semilir angin pegunungannya. Di atas tikar hasil anyaman sendiri, Mak dan Alvin duduk bersimpuh menyantap nasi goreng kampung berlauk ikan asin.


"Alvin lihat sendiri, kan? Mak sehat setelah Alvin membacakan Al-Qur'an. Berarti, Alvin mau, kan, rajin mengaji?" Mak menatap tajam, menyelami manik mata anaknya. 

"Kalau Alvin rajin mengaji dan belajar, Ayah dan Ibu di surga pasti akan sangat bahagia. 


Mak tidak ingin mereka sedih karena melihatmu kelelahan bekerja di pasar, dan itu akan membuat Mak kembali sakit."


Perlahan, ekspresi Alvin berubah. Bening di matanya kian menggunung, hingga akhirnya tumpah menjadi isak yang tertahan.

"Menangislah, Nak. Biarkan semuanya lega. Mak akan selalu ada untukmu," bisik Mak sambil merangkul tubuh mungil itu dengan erat. "Alvin harus berjanji untuk rajin mengaji dan belajar. Alvin juga harus mau bicara, katakan apa pun yang ingin kau katakan. Jangan hanya diam, karena diammu akan membuat Mak merasa bersalah."


Di sudut rumah petak berdinding kayu itu, sesosok cecak mematung, seolah turut menyaksikan janji itu. Ia menjadi saksi saat Alvin, dengan suara pelan yang bergetar di tengah sesenggukannya, mengucap janji:

"Alvin janji akan mengaji dan belajar, asal Mak sehat. Alvin akan belajar agar Ayah dan Ibu bahagia di surga."


Setelah kalimat itu terucap, Alvin kembali tenggelam dalam pelukan hangat Mak, menyerahkan seluruh beban masa kecilnya pada kasih sayang yang tulus.

 

Lueng Putu, 8 Maret 2026

 

 

Biografi.

 

M. Hanafiah, lebih dikenal dengan nama pena Hanafabdu lahir di Samalanga, lulusan sarjana Pendidikan Ekonomi Unsyiah merupakan seorang pendidik yang mendedikasikan dirinya sebagai guru Ekonomi di MAS Jeumala Amal, Kabupaten PidieJaya. Di sela kesibukannya mengajar, ia aktif mengasah kreativitas dalam dunia literasi melalui komunitas Guru Menulis Aceh dan Hobi Menulis.


Kecintaannya pada dunia tulis-menulis telah melahirkan berbagai karya yang tersebar di berbagai media, mulai dari laman resmi Jeumala Amal, antologi puisi LAPENA Aceh, hingga antologi bersama FLP Pidie. Sebagai bentuk dedikasi terhadap generasi muda, ia pernah dipercaya menjadi pembimbing di "Bengkel Tulis Jeumala Amal" dan rutin membimbing murid-muridnya dalam menulis untuk berbagai ajang perlombaan. Bagi Hanafiah, menulis bukan sekadar hobi, melainkan cara untuk terus menginspirasi.


Penulis dapat disapa melalui media sosial berikut: Facebook:hanafabdu Instagram: @hanafabdu

 

 

0/Post a Comment/Comments

Iklan