Oleh Tabrani Yunis
Di sebuah negeri pesisir yang indah bernama Manggeng, lautnya biru berkilau dan hutan hijau penuh suara burung. Dahulu kala, negeri ini dipimpin oleh para raja yang disebut uleebalang. Mereka bukan hanya pemimpin, tetapi juga penjaga adat, pelindung rakyat, dan sahabat alam.
Anak-anak di kampung sering mendengar cerita dari kakek mereka tentang sepuluh raja Manggeng. Kakek berkata:
• Raja pertama bernama Datuk Besa, seorang bijak yang selalu menasihati rakyat agar hidup rukun.
• Setelah itu, datanglah Datuk Muda, lalu Datuk Cut Amat dan Datuk Cut Dolah, yang menjaga perdagangan di pelabuhan pesisir.
• Ada pula Datuk Raja Geh, yang terkenal berani melawan penjajah.
• Kemudian, Teuku Sandang, Teuku Nana, dan Teuku Mamat yang menjaga adat dan budaya.
• Lalu Teuku Kanda, meski masih muda, pernah disebut sebagai calon raja.
• Dan terakhir, Teuku Raja Idi, raja yang istananya masih dikenang oleh orang-orang tua di Manggeng.
Kakek berkata, “Para raja itu seperti pohon besar. Akar mereka adalah adat, batangnya adalah keberanian, dan daunnya adalah kasih sayang untuk rakyat.”
Anak-anak pun membayangkan negeri Manggeng sebagai sebuah pelabuhan ramai, tempat kapal-kapal singgah membawa hasil bumi dan ikan dari laut. Mereka juga membayangkan para raja berdiri gagah di tepi pantai, menjaga negeri agar tetap aman.
Namun, kakek mengingatkan, “Banyak cerita tentang raja-raja Manggeng belum tertulis di buku. Mereka masih tersimpan dalam ingatan orang tua. Karena itu, kalian harus rajin bertanya, mendengar, dan menulis kembali cerita-cerita ini. Supaya sejarah Manggeng tidak hilang.”
Anak-anak pun bersemangat. Mereka berjanji akan menjadi penulis kecil, mencatat cerita rakyat, dan menjaga sejarah negeri mereka. Karena bagi mereka, mengenal Manggeng berarti mengenal jati diri sendiri.
✨ Cerita ini bisa dijadikan bahan bacaan anak di sekolah atau majalah anak, dengan ilustrasi kapal layar, istana kecil di tepi pantai, dan anak-anak yang mendengarkan cerita kakek.

Posting Komentar