Rahasia di Balik Asap Tungku

Ilustrasi oleh AI



Oleh: Syarifudin Brutu


Di teras rumah panggung Desa Teluk Rumbia, Didin sedang asyik dengan ponselnya. Di sampingnya berserakan bungkus camilan instan berwarna mencolok dan kaleng minuman bersoda. 


Baginya, makanan kota yang praktis adalah simbol kemajuan, sementara kehidupan di tepi sungai ini terasa sangat lambat.


"Didin, jangan terus-menerus makan yang serba instan. Tubuhmu butuh asupan yang jujur dari alam," tegur Ibu lembut sambil membawa sebakul pati sagu yang baru diambil dari hasil perasan batang pohon rumbia di belakang rumah.


Didin hanya tersenyum. "Tapi ini praktis, Bu. Tidak perlu repot menunggu lama."

Ibu tidak marah. Beliau justru mengajak Didin ke dapur. "Sesuatu yang cepat memang terasa enak di lidah, tapi tidak memberi tenaga yang lama untuk badan. 


Mari bantu Ibu, kita buat bekal untuk Ayahmu yang sedang bekerja di hutan."

Didin meletakkan ponselnya dan mengikuti Ibu ke dapur belakang. Di sana, sebuah tungku batu sudah siap dengan tumpukan kayu bakar. Tidak ada kompor gas yang tinggal putar; di sini, semuanya dimulai dengan kesabaran.


"Tau gak, din? Sagu ini berasal dari sari pati batang rumbia yang sudah tua. Perlu diperas dan diendapkan berhari-hari sampai jadi putih bersih seperti ini," jelas Ibu sambil mencampur pati sagu dengan parutan kelapa segar.


Didin mulai membantu. Ia memeras santan secara manual. Tangannya terasa dingin dan harum minyak kelapa alami. "Ibu tidak pakai santan kotak?" tanya Didin.


Ibu menggeleng. "Santan perasan tangan itu lebih kental dan wangi, Didin. Mesin pabrik tidak bisa memberikan rasa kasih sayang dalam perasannya."


Ibu kemudian mengiris gula merah asli dan mencampurnya ke adonan sagu. Mereka membungkusnya dengan daun pisang yang sudah dilayukan di atas api. Setelah rapi, lompong-lompong itu diletakkan di atas bara api kayu bakar.


"Kenapa harus kayu bakar, Bu?" asap mulai membuat mata Didin sedikit perih.

"Karena panas kayu bakar itu meresap pelan, Didin. Asapnya masuk ke pori-pori daun pisang dan memberi aroma 'sangit' yang nikmat. Kompor gas hanya memberi panas, tapi tungku kayu memberi rasa," jawab Ibu sabar.


Sambil menunggu lompong matang, Ibu membuat GodekhSagu. Didin memperhatikan Ibu membentuk bola-bola sagu kecil seukuran kelereng. Bola-bola itu dimasukkan ke dalam rebusan santan dan gula merah yang sudah harum karena daun pandan.


Begitu bola sagu berubah bening dan mengapung, GodekhSagu pun siap. Di saat yang sama, Lompong Sagu di atas tungku sudah terlihat gosong kehitaman daunnya. Aroma gurih kelapa bakar dan manis karamel gula merah memenuhi ruangan, jauh lebih harum daripada bau bumbu kimia dari camilan instan Didin tadi.


Didin mencicipi sepotong Lompong Sagu yang masih mengepul. Begitu digigit, tekstur kenyal sagu beradu dengan gurihnya kelapa dan lelehan gula merah. 


Lalu ia menyeruput Godekh Sagu yang hangat. Rasanya sangat nyaman di perut, tidak membuat haus atau tenggorokan gatal.


"Ternyata... rasanya jauh lebih 'dalam' ya, Bu? Lebih mengenyangkan juga," aku Didin jujur. Ia baru sadar bahwa masakan manual ini bukan sekadar makanan, tapi hasil kerja keras dan perhatian.


Didin melihat tangannya yang sedikit terkena abu kayu bakar. Ia merasa bangga karena ikut serta dalam prosesnya, bukan sekadar penikmat hasil akhir. Ia menyadari bahwa orang zaman sekarang mungkin tahu cara membeli, tapi lupa cara menghargai sebuah proses.


Sore itu, saat seorang teman sekolah Didin dari kota datang berkunjung membawa sekotak pizza dingin yang ia beli di pusat kota, Didin tidak merasa iri. 


Sebaliknya, teman Didin itulah yang terpaku mencium aroma dari dapur Didin.

"Bau apa ini, Din? Kok wangi banget sampai ke dermaga?" tanya temannya penasaran.


Didin tersenyum bangga sambil menyodorkan sepiring Lompong Sagu yang masih hangat. "Ini rahasia Teluk Rumbia. Buatan tangan, dimasak pakai hati di atas tungku kayu. Cobain deh, lidah kota kamu pasti kaget sama rasa aslinya."


Sejak hari itu, Didin jarang lagi menyentuh camilan instannya. Ia lebih sering terlihat di dapur, mebantu Ibu meniup bara api di tungku. Bagi Didin, masakan tradisional Aceh Singkil bukan sekadar kuno; itu adalah kemewahan yang hanya bisa dimiliki oleh mereka yang menghargai proses dan kejujuran rasa.

0/Post a Comment/Comments

Iklan