Oleh Anton Sucipto, SP
Di sebuah padang rumput yang luas, hiduplah seekor kambing bernama Bingo. Tubuhnya putih bersih dengan tanduk kecil yang melengkung. Ia tinggal bersama banyak kambing lainnya di lereng bukit yang hijau.
Namun, beberapa bulan terakhir, jumlah kambing di tempat itu semakin bertambah. Banyak anak kambing lahir, dan beberapa kambing dari desa lain ikut pindah. Awalnya ia senang karena punya banyak teman. Tetapi lama-kelamaan, rumput di padang itu semakin sedikit.
Suatu pagi, ia berjalan berkeliling mencari makanan. Ia menundukkan kepala, berharap menemukan rumput segar. Sayangnya, yang terlihat hanya tanah kering dan sisa-sisa rumput pendek.
“Aduh, ke mana semua rumput ini?” keluhnya sedih. Perutnya berbunyi keroncongan. Ia berjalan lebih jauh dari biasanya, tetapi tetap saja tidak menemukan cukup makanan.
Karena lelah dan bingung, ia duduk di bawah pohon kecil. Tiba-tiba terdengar suara lembut.
“Kamu kenapa terlihat sedih?” tanya suara itu.
Bingo menoleh dan melihat seekor ayam kecil berwarna cokelat. Bulu-bulunya halus, dan matanya bersinar ramah.
“Aku lapar,” jawabnya jujur. “Rumput di tempat tinggalku sudah hampir habis karena kambing di sana semakin banyak.”
Ayam kecil itu mengangguk pelan. “Aku juga belum makan seharian. Biasanya aku mencari biji-bijian di dekat ladang, tapi hari ini sulit sekali menemukannya.”
Bingo merasa iba. “Jadi kamu juga lapar?”
Ayam itu tersenyum meski tampak lemas. “Iya, tapi aku tahu tempat yang masih banyak rumputnya. Di balik bukit sana ada padang kecil yang jarang didatangi kambing.”
Matanya berbinar. “Benarkah? Maukah kamu menunjukkannya padaku?”
“Tentu saja,” jawab Ayam itu semangat.
Mereka pun berjalan bersama. Bingo melangkah pelan agar ayam bisa mengikuti. Setelah melewati jalan berbatu dan semak-semak, akhirnya mereka sampai di sebuah padang kecil yang hijau. Rumputnya tumbuh lebat dan segar.
“Wah, terima kasih banyak ya..” seru Bingo gembira. Ia segera memakan rumput dengan lahap.
Setelah perutnya kenyang, Bingo teringat sesuatu. “kamu bilang belum makan, kan?”
Ayam itu mengangguk pelan.
Bingo tersenyum. “Di rumahku masih ada jagung yang kusimpan. Itu bukan makanan kambing, tapi pasti kamu suka.”
“Benarkah?” tanya ayam dengan mata berbinar.
“Iya! Ayo ikut denganku.”
Mereka kembali ke rumah Bingo. Benar saja, di sudut kandang masih ada beberapa bonggol jagung. Ia mendorongnya mendekat ke ayam itu.
“Silakan makan,” katanya ramah.
Ayam itu mematuk jagung itu dengan senang hati. “Terima kasih, ya. Kamu baik sekali.”
Bingo tersenyum hangat. “Kamu juga baik karena sudah membantuku. Walaupun kita berbeda aku tinggal di padang rumput dan kamu sering di ladang, tubuhku besar dan kamu kecil kita tetap bisa saling menolong.”
Sejak hari itu, mereka menjadi sahabat. Mereka belajar bahwa kebaikan tidak melihat perbedaan ukuran tubuh atau tempat tinggal. Jika saling membantu, semua masalah terasa lebih ringan dan persahabatan pun tumbuh dengan indah.
Penulis : Anton Sucipto SP.
Alumni Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Fakultas Pertanian.

Posting Komentar