Buku Dongeng

 


Oleh Anton Sucipto, SP 

 

Suatu sore yang cerah di halaman sekolah, terdengar suara anak-anak bermain sepak bola dengan riang. Bola meluncur cepat, tawa dan sorakan memenuhi lapangan. Namun di sudut lapangan, seorang anak duduk diam sambil membuka sebuah buku dongeng. Namanya Dudung. Ia lebih suka membaca daripada bermain bola. Sayangnya, tidak semua temannya mengerti itu.


Dudung sebenarnya pernah mencoba bermain sepak bola. Namun setiap kali ia menendang bola, arahnya sering melenceng. Kadang bola malah berhenti di dekat kakinya sendiri. Teman-temannya sering tertawa. Yang paling sering mengejek adalah Bondan.


Bondan adalah jagoan sepak bola di sekolah. Ia bisa menggiring bola dengan cepat dan menendang dengan sangat kuat. Karena itu, ia sering merasa paling hebat.


“Dudung, kamu itu lucu sekali! Bola saja tidak bisa kamu tendang dengan benar!” kata Bondan sambil tertawa.


Teman-teman yang lain ikut tertawa. Dudung hanya tersenyum kecil. Ia tidak marah, meskipun hatinya sedikit sedih.

 

Setelah itu Dudung pergi ke bawah pohon mangga di halaman sekolah. Ia membuka buku dongeng kesayangannya. Di dalam buku itu ada banyak cerita tentang pangeran, penyihir, naga, dan petualangan seru.


Membaca membuat Dudung merasa senang. Ia suka membayangkan cerita-cerita baru di kepalanya.

Suatu hari Pak Pucung guru kelas mereka, datang membawa kabar penting.


“Anak-anak, bulan depan akan ada lomba menulis cerpen untuk siswa SD. Temanya adalah dongeng. Siapa yang suka menulis boleh ikut,”.

Dudung langsung berbinar. Ia sangat suka dongeng. Sepulang sekolah, Dudung mulai menulis cerita setiap hari. Ia menulis tentang kerajaan di awan, tentang anak pemberani yang menolong naga, dan tentang persahabatan yang baik.


Sementara itu Bondan tetap sibuk bermain sepak bola. Ia tidak tertarik dengan lomba menulis.

Hari demi hari Dudung terus berlatih menulis. Kadang ia menghapus, kadang ia memperbaiki kalimatnya. Ia ingin ceritanya menjadi yang terbaik.


Akhirnya hari pengumuman lomba tiba. Semua siswa berkumpul di aula sekolah.

Jantung Dudung berdebar-debar ketika kepala sekolah membuka amplop pengumuman.

“Juara pertama lomba cerpen tema dongeng adalah… Dudung!” kata kepala sekolah dengan suara lantang.


Seluruh ruangan langsung bertepuk tangan. Dudung terkejut sekaligus sangat bahagia. Ia maju ke depan menerima piala dan hadiah uang yang cukup banyak.


Dengan uang itu, Dudung membeli sepatu baru dan baju seragam sekolah yang sudah lama ingin ia miliki.


Keesokan harinya di sekolah, Bondan mendatangi Dudung. Kali ini wajahnya tidak sombong seperti biasanya.

“Dudung… aku mau minta maaf,” kata Bondan pelan.

Dudung menatapnya dengan heran.


“Aku sering mengejekmu karena kamu tidak jago sepak bola. Tapi ternyata kamu hebat menulis cerita,” lanjut Bondan.


Dudung tersenyum ramah. “Tidak apa-apa, Bondan. Setiap orang punya kelebihan yang berbeda.”


Sejak hari itu Bondan tidak pernah mengejek Dudung lagi. Bahkan kadang ia meminta Dudung membacakan cerita dongeng yang baru ditulisnya.

Mereka pun menjadi teman baik.


Setiap anak memiliki bakat yang berbeda. Jangan pernah mengejek teman, karena setiap orang bisa hebat dengan caranya sendiri. Menghargai kelebihan orang lain adalah tanda hati yang baik.

 

Penulis : 

Anton Sucipto SP.

Saat kecil suka membaca buku dongeng petualangan yang ditulis oleh penulis terkenal enid blyton. Suka makan bakso dan kue onde-onde.


 

0/Post a Comment/Comments

Iklan