Oleh Tabrani Yunis
Ramadan hampir selesai. Hari itu sudah masuk hari ke-27. Hanya tinggal beberapa hari lagi, umat Islam akan menyambut Hari Raya Idul Fitri. Di rumah kecil mereka di kota, Arisya Anum dan Aqila Azalea sibuk memilih pakaian baru yang akan dipakai saat Lebaran. Ayah sudah membelikan masing-masing tiga pasang baju.
Arisya tersenyum senang sambil mencoba satu persatu. Namun Aqila tiba-tiba berkata kepada Mama,
“Ma, boleh nggak beli satu lagi untuk Aqila? Aqila ingin lebih banyak.”
Mama terdiam sejenak. Lalu dengan lembut ia menjawab,
“Sayang, kita harus bersyukur kepada Allah. Kita sudah diberi rezeki untuk membeli pakaian Lebaran, bukan hanya satu, tapi tiga pasang. Itu sudah lebih dari cukup.”
Mama kemudian menatap Aqila dengan penuh kasih.
“Aqila ingat tidak, anak-anak di Pidie Jaya, Aceh Utara, Aceh Tamiang, dan daerah lain yang terkena banjir bandang? Mereka sekarang masih tinggal di tenda-tenda pengungsian. Mereka tidak bisa berhari raya seperti kita. Untuk pakaian sehari-hari saja mereka sangat terbatas, apalagi baju baru untuk Lebaran.”
Aqila terdiam. Kata-kata Mama membuat hatinya terasa berat. Ia teringat saat ikut Mama ke Meureudu minggu lalu. Di sana ia melihat rumah-rumah yang hancur, masih tertimbun lumpur. Anak-anak sebaya dirinya berlari di antara tenda pengungsian, dengan pakaian lusuh dan wajah penuh kesedihan.
Mama melanjutkan,
“Bagaimana kalau dua pasang saja yang Aqila pakai, dan satu pasang lagi kita hadiahkan untuk anak-anak di pengungsian? Supaya mereka juga bisa merasakan sedikit kebahagiaan di hari raya.”
Aqila menunduk. Matanya berkaca-kaca. Ia membayangkan anak-anak di tenda pengungsian yang berlebaran tanpa rumah, tanpa pakaian baru, hanya dengan senyum tipis menahan rindu pada kehidupan yang hilang.
Dengan suara pelan, Aqila berkata,
“Baik, Ma. Aqila setuju. Lebih baik satu baju Aqila diberikan untuk mereka. Semoga mereka bisa ikut bahagia di hari raya.”
Hari itu, Aqila belajar bahwa Lebaran bukan hanya tentang pakaian baru atau makanan enak. Lebaran adalah tentang berbagi, tentang mengingat saudara-saudara yang sedang menderita, dan tentang menghadirkan senyum di wajah mereka yang kehilangan segalanya.
Cerita ini menyentuh hati karena mengingatkan kita bahwa di balik kegembiraan Lebaran, ada anak-anak yang harus berlebaran di tenda pengungsian. Mereka menunggu uluran tangan kita agar bisa merasakan sedikit kebahagiaan di hari kemenangan.

Posting Komentar