Hari ke-30 puasa, Nayla, Aqila Azalea, dan Arisya Anum sudah tak sabar. Mereka akan mudik bersama Ayah dan Mama ke kampung Mama di Meurandeh Alue, Ule Gle, Pidie Jaya. Perjalanan dari Banda Aceh cukup jauh, sekitar 171 kilometer, tapi hati mereka penuh semangat.
Ayah menyiapkan mobil sejak pagi.
Setelah salat Jumat, keluarga kecil itu berangkat melewati pintu tol Sibanceh.
Di dalam mobil, anak-anak bernyanyi riang, sesekali bertanya tentang kampung
Mama. Ayah tersenyum, menjelaskan bahwa kampung Mama penuh dengan sawah hijau
dan udara segar.
Di tengah perjalanan,
Aqila bertanya, “Yah, kenapa ada yang berhari raya hari ini, dan ada yang besok?” Ayah menjawab lembut, “Karena ada dua cara menentukan hari raya.
Ada yang ikut Muhammadiyah, ada yang ikut
pemerintah. Tidak apa-apa berbeda, yang penting kita tetap saling menghormati
dan berbahagia bersama.”
Sesampainya di kampung, anak-anak langsung merasakan suasana hangat. Mama mengajak mereka membantu menyiapkan kue dan ketupat. Ayah pun mengingatkan, selain berlebaran, mereka akan berbagi pakaian gamis untuk
masyarakat yang terkena banjir bandang.
Anak-anak merasa bangga bisa ikut
berbagi. Pagi hari raya, Nayla, Aqila Azalea, dan Arisya bangun lebih awal.
Mereka mandi, lalu mengenakan baju baru yang dibelikan Ayah dan Mama.
Dengan wajah ceria, mereka berangkat ke masjid untuk salat Id. Setelah khutbah, mereka pulang, bersalaman dengan Ayah dan Mama sambil berkata, “Mohon maaf lahir dan
batin.” Ayah dan Mama tersenyum haru, lalu memeluk mereka erat.
Hari itu, rumah Mama dipenuhi tawa, doa, dan semangat berbagi. Anak-anak belajar bahwa berhari raya bukan hanya tentang baju baru atau kue manis, tetapi juga tentang
kebersamaan, saling memaafkan, dan membantu sesama.
Yang paling penting ya, anak-anak ayah yang berbajagia, hari raya menjadi indah bukan hanya karena kita berkumpul bersama keluarga, tetapi juga karena kita belajar berbagi dan menghargai perbedaan.

Posting Komentar