Banjir Bandang yang Menyisakan Penderitaan Panjang



Oleh Tabrani Yunis

Kemarin siang, Arisya duduk di dalam mobil bersama Ayah, Bunda, dan dua kakaknya: Kak Nayla dan Kak Aqila. Mereka sedang dalam perjalanan pulang ke kampung Mama di Ule Gle. Perjalanan dari Banda Aceh cukup jauh, hampir tiga jam lamanya.

Saat mobil mulai masuk ke kota Meureudu, Arisya melihat sesuatu yang membuatnya terkejut.

“Bukankah di sini pernah banjir besar?” tanya Arisya sambil menatap keluar jendela.

“Iya, banjir bandang yang sangat dahsyat,” jawab Kak Nayla. “Banyak rumah hanyut dan tertimbun lumpur.”

“Lumpurnya bahkan masuk ke dalam rumah, sampai beberapa meter tingginya,” tambah Kak Aqila.

Mobil mereka pelan-pelan melintasi jalan yang masih terlihat bekas lumpur. Ayah menunjuk ke kiri dan kanan.

“Lihatlah, anak-anak,” kata Ayah. “Rumah-rumah itu dulu indah dan kokoh. Tapi sekarang, lumpur yang mengering menutupi semuanya. Penghuninya terpaksa pergi.”

Arisya melihat seorang ibu dan anaknya sedang mencangkul lumpur di halaman rumah. Wajah mereka lelah, tapi tetap berusaha.

“Kasihan ya, Ayah,” kata Kak Nayla. “Kapan mereka bisa tinggal di rumah lagi?”

Ayah menghela napas. “Mereka belum bisa pulang. Sekarang tinggal di tenda pengungsian. Tempatnya sempit dan serba terbatas. Apalagi sekarang bulan Ramadan.”

Arisya terdiam. Ia membayangkan jika dirinya harus tinggal di tenda, tanpa tempat tidur empuk, tanpa makanan hangat, dan tanpa mainan.

“Kalau kalian mengalami hal seperti ini, sanggupkah kalian bertahan?” tanya Ayah lembut.

Mereka bertiga saling pandang. Lalu menjawab pelan, “Ya Ayah…”

Ayah tersenyum. “Makanya, jangan manja. Jangan hanya mau makanan instan dan hiburan dari gadget. Hidup tidak selalu nyaman. Kita harus belajar bersyukur dan siap menghadapi apa pun.”

Arisya memeluk Ayah dari belakang. Di matanya, ada rasa haru dan semangat baru.


0/Post a Comment/Comments

Iklan