Oleh Azzura Septia Effendi Nasution dan Al Haq Zaydan Zibriel Nasution
Sudah dua hari kami menyelamatkan diri, mengungsi di atas atap, dengan rasa haus dan lapar, membuat kami harus berjuang bertahan hidup. Wawak kami yang juga mengungsi di tempat yang sama dengan kami, nekat melompat ke air untuk mengambil pisang, buah kelapa untuk kami makan. Kami tidak menyangka Wawak berani sekali melompat ke air yang begitu tinggi dan deras. Namun, Wawak berhasil mendapatkan semua buah itu dengan selamat. Wawak pun kembali naik ke atas atap tempat kami mengungsi.
Kami bersyukur ada Wawak kami yang berani dengan nekat mengambil buah-buah itu, dan ayah langsung membelah buah untuk dapat dimakan oleh anak-anak. Kelapanya dibagi tiga dan pada saat itu ada 4 kelapa. Kami yang anak-anak berjumlah delapan orang. Lalu pisangnya diolah oke ibu dan nenek serta pengungsi lainnya.
Untungnya kompor yang sudah terombang ambing di dalam rumah tersebut masih bisa digunakan. Lalu, diolah dengan cara direbus saja, karena tidak ada air bersih.
Jadi dimasak dengan menggunakan air banjir. Setelah masak kami membagi sama rata. Ketika pisangnya saya makan, masih terasa bau lumpur. Namanya juga air banjir. Jadi lumpurnya juga ikut. Sama seperti air yang kami minum.
Di malam Jumat, kami semua menjerit meminta tolong dikarenakan oleh apa yang kami dengar suara pesawat melewati di atas atap yah yang kami tempati. Namun semuanya sia-sia, kami menjerit minta pertolongan pun tidak terdengar olehnya.
Keesokan harinya air semakin naik dan arusnya semakin kuat. Sehingga membuat saya adik saya menjadi takut bila air menyeret rumah kami dan dibawa hanyut. Ibu menangis melihat rumah-rumah yang diseret oleh banjir. Kami pun merasakan sangat menderita berada di atas atap rumah itu, karena air tidak langsung surut.
Kami berusaha tetap bersemangat, walaupun rumah sudah dibawa hanyut oleh air. Apalagi karena kami sekeluarga masih selamat. Semoga air cepat surut, juga semoga kami bisa kembali bermain setelah banjir nanti.

Posting Komentar