Oleh Delia Rawanita
" Sahur, yok bangun" suara Bunda terdengar lirih di telinga. Dengan geliat malas aku bangun juga, maklumlah kasur bantuan di rumah hunian sementara membuat tidurku lumayan nyaman karena setelah dua bulan lebih kami tidur cuma beralaskan tikar, itupun tanpa bantal.
" Yok, panggilan sahur dari posko sudah terdengar" bujuk Bunda
" Ya, sebentar, cuci muka dulu" sahutku. Beriringan dengan Bunda , aku melangkah menuju posko pengungsian. Di sana para relawan terlihat sudah menunggu dengan senyum ramahnya.
" Mari buk, silahkan " sapanya lagi. Beberapa yang kukenal sudah duduk berjajar rapi di bawah tenda beralaskan terpal. Di hadapan masing masing tersedia nasi kotak, segelas teh manis hangat dan air mineral. Tidak ada yang saling mendahului , apalagi berebutan. Semua begitu tertib dan bersahaja, makanan disediakan untuk setiap orang yang sahur bersama.
Suasana begitu khitmad, hanya hati masing masing yang berbicara, mungkin juga tentang takdir, cobaan hidup, musibah yang datang , perhatian para relawan, donatur yang budiman . Ah, membuat rasa bercampur baur.
Sesekali kami saling memandang dalam diam. Bunda tahu perasaanku sedang berkecamuk. Dari ada menjadi tiada, sangat berat terasa. Aku tercenung sendiri, membayangkan seandainya tidak datang banjir bandang beserta balok kayu besar menghantam rumah, pasti saat ini kami sedang menikmati sahur sekeluarga di rumah dengan bahagia, bukan di tempat pengungsian.
Tak terasa airmataku jatuh, ku seka pelan pelan.
" Perbanyak sabar ya. Allah pasti sayang sama kita. Insya Allah semua akan digantikan dengan yang lebih baik" bisik Bunda menyadarkan aku untuk selalu ikhlas.
" Astaghfirullah" aku kembali tersadar dan meneruskan suapan yang terakhir.
Banda Aceh , 25 02 26

Posting Komentar