Oleh Tabrani Yunis
Hari itu, wajah Ayah tampak serius. Ia menatap Nayla dan Aqila yang sedang asyik dengan gadget mereka. Layar penuh warna dan suara game membuat keduanya lupa waktu. Ayah menghela napas panjang.
“Anak-anak,” kata Ayah lembut namun tegas, “Ayah sedih melihat kalian semakin jarang membaca dan mengulang pelajaran. Padahal, sejak kecil Ayah sudah mengenalkan kalian pada buku-buku yang penuh ilmu dan cerita menarik.”
Nayla dan Aqila menunduk. Mereka tahu Ayah benar.
Ayah lalu mengingatkan kembali masa-masa indah mereka belajar bersama.
Sejak bayi, Nayla dan Aqila sudah diajak berbicara dalam bahasa Inggris. Ayah melatih mereka dengan reproductive reading: membaca cerita, memahami isinya, lalu menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri. Dari latihan itu, mereka belajar membaca mendalam sekaligus berani berbicara di depan orang lain.
Bahkan, tulisan Nayla dan Aqila pernah dimuat di majalah Anak Cerdas dan POTRET. Itu bukti bahwa mereka punya bakat besar.
Ayah berkata, “Membangun masa depan bukan dimulai saat kita sudah besar. Masa depan dibangun sejak kecil, dengan pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang baik.
Belajar di usia dini itu seperti mengukir di atas batu—bekasnya akan selalu ada. Tapi belajar saat sudah dewasa, ibarat mengukir di atas air—mudah hilang.”
Ayah menatap penuh harapan. “Kalau kalian ingin masa depan cerah, rajinlah membaca, menulis, dan berhitung. Jangan berhenti berkarya. Potensi yang sudah ada harus dirawat, karena itu modal dasar untuk membangun jembatan menuju masa depan yang lebih baik.”
Nayla dan Aqila terdiam. Mereka mulai menyadari bahwa gadget hanyalah hiburan sesaat, sedangkan ilmu dan karya adalah bekal seumur hidup.
Dalam hati, mereka berjanji:
Akan kembali rajin membaca buku, akan menulis cerita dan artikel untuk majalah dan akan menggunakan waktu dengan bijak, bukan hanya untuk bermain gadget.
Sejak hari itu, Nayla dan Aqila mulai membangun jembatan masa depan mereka dengan semangat baru. Mereka tahu, setiap halaman yang dibaca, setiap kata yang ditulis, dan setiap ide yang dibagikan adalah batu bata yang menyusun jembatan menuju impian.
Dan Ayah pun tersenyum, karena ia melihat cahaya masa depan anak-anaknya mulai bersinar kembali.

Posting Komentar