Kebiasaan untuk Menabung



Oleh Anton Sucipto, SP

 

Dudung adalah anak yang suka menabung. Tapi berbeda dengan sahabatnya yang bernama Bondan yang tidak mau menabung. Mereka duduk di kelas yang sama dan selalu bermain bersama saat jam istirahat.


Dudung memiliki kebiasaan baik. Setiap hari, ia selalu menyisihkan sebagian uang sakunya untuk ditabung. Ia menyimpan uang itu di dalam celengan berbentuk ayam di kamarnya. “Sedikit demi sedikit, lama-lama jadi banyak,” kata Dudung setiap kali memasukkan koin ke dalam celengannya.


Berbeda dengan Dudung, Bondan lebih suka menghabiskan uang sakunya untuk jajan. Ia membeli permen, cokelat, es, dan mainan kecil. “Uang itu untuk dinikmati hari ini!” ujar Bondan sambil tertawa. Ia tidak pernah tertarik untuk menabung.


Suatu pagi, pak guru,  mengumumkan kabar gembira. Sekolah akan mengadakan lomba melukis. Pemenangnya akan mendapat piala dan hadiah menarik. 

Dudung dan Bondan sangat senang mendengarnya karena mereka sama-sama suka menggambar.


Namun, ada satu syarat untuk mengikuti lomba itu. Setiap peserta harus membayar uang pendaftaran sebesar dua puluh ribu rupiah untuk membeli perlengkapan dan hadiah.


Dudung tersenyum. Ia sudah memiliki cukup uang dari tabungannya. Sore itu, ia membuka celengannya dan menghitung uangnya dengan hati-hati. Uangnya lebih dari cukup untuk membayar biaya lomba.

Keesokan harinya, Dudung mendaftar lomba dengan penuh semangat. Sementara itu, Bondan tampak murung di bangkunya.

 

“Ada apa, Bondan?” tanya Dudung.

 

“Aku ingin sekali ikut lomba melukis,” jawab Bondan pelan. “Tapi uang sakuku selalu habis untuk jajan. Aku tidak punya uang untuk membayar pendaftaran.”

 

Dudung terdiam sejenak. Ia teringat celengannya di rumah. Ia memang sudah membayar biaya lomba, tetapi uangnya masih tersisa cukup banyak.


Sepulang sekolah, Dudung mengambil sebagian uang tabungannya. Keesokan harinya, ia menghampiri Bondan.

 

“Bondan, ini untukmu. Pakailah untuk membayar lomba,” kata Dudung sambil menyerahkan uangnya.

 

Bondan terkejut. “Benarkah? Tapi itu uang tabunganmu!”

 

Dudung tersenyum. “Tidak apa-apa. Kita sahabat, kan? Lagi pula, menabung membuatku bisa membantu orang lain.”

 

Mata Bondan berkaca-kaca. Ia merasa sangat terharu dan berjanji dalam hati untuk berubah.


Mereka pun mengikuti lomba melukis bersama. Dengan penuh semangat, mereka menggambar pemandangan desa yang indah. Hari itu menjadi hari yang menyenangkan bagi keduanya.

 

Sejak saat itu, Bondan mulai belajar menyisihkan uang sakunya. Ia ingin seperti Dudung, yang rajin menabung dan berhati baik. Ia sadar bahwa menabung bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga bisa membantu sahabat.


Dudung dan Bondan pun semakin akrab. Mereka belajar bahwa kebiasaan baik dan persahabatan adalah harta yang paling berharga.

 

Penulis : Anton Sucipto SP.

Alumni Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Fakultas Pertanian.

 

  Anton Sucipto, SP

 

Dudung adalah anak yang suka menabung. Tapi berbeda dengan sahabatnya yang bernama Bondan yang tidak mau menabung. Mereka duduk di kelas yang sama dan selalu bermain bersama saat jam istirahat.


Dudung memiliki kebiasaan baik. Setiap hari, ia selalu menyisihkan sebagian uang sakunya untuk ditabung. Ia menyimpan uang itu di dalam celengan berbentuk ayam di kamarnya. “Sedikit demi sedikit, lama-lama jadi banyak,” kata Dudung setiap kali memasukkan koin ke dalam celengannya.


Berbeda dengan Dudung, Bondan lebih suka menghabiskan uang sakunya untuk jajan. Ia membeli permen, cokelat, es, dan mainan kecil. “Uang itu untuk dinikmati hari ini!” ujar Bondan sambil tertawa. Ia tidak pernah tertarik untuk menabung.


Suatu pagi, pak guru,  mengumumkan kabar gembira. Sekolah akan mengadakan lomba melukis. Pemenangnya akan mendapat piala dan hadiah menarik. 

Dudung dan Bondan sangat senang mendengarnya karena mereka sama-sama suka menggambar.


Namun, ada satu syarat untuk mengikuti lomba itu. Setiap peserta harus membayar uang pendaftaran sebesar dua puluh ribu rupiah untuk membeli perlengkapan dan hadiah.


Dudung tersenyum. Ia sudah memiliki cukup uang dari tabungannya. Sore itu, ia membuka celengannya dan menghitung uangnya dengan hati-hati. Uangnya lebih dari cukup untuk membayar biaya lomba.

Keesokan harinya, Dudung mendaftar lomba dengan penuh semangat. Sementara itu, Bondan tampak murung di bangkunya.

 

“Ada apa, Bondan?” tanya Dudung.

 

“Aku ingin sekali ikut lomba melukis,” jawab Bondan pelan. “Tapi uang sakuku selalu habis untuk jajan. Aku tidak punya uang untuk membayar pendaftaran.”

 

Dudung terdiam sejenak. Ia teringat celengannya di rumah. Ia memang sudah membayar biaya lomba, tetapi uangnya masih tersisa cukup banyak.


Sepulang sekolah, Dudung mengambil sebagian uang tabungannya. Keesokan harinya, ia menghampiri Bondan.

 

“Bondan, ini untukmu. Pakailah untuk membayar lomba,” kata Dudung sambil menyerahkan uangnya.

 

Bondan terkejut. “Benarkah? Tapi itu uang tabunganmu!”

 

Dudung tersenyum. “Tidak apa-apa. Kita sahabat, kan? Lagi pula, menabung membuatku bisa membantu orang lain.”

 

Mata Bondan berkaca-kaca. Ia merasa sangat terharu dan berjanji dalam hati untuk berubah.


Mereka pun mengikuti lomba melukis bersama. Dengan penuh semangat, mereka menggambar pemandangan desa yang indah. Hari itu menjadi hari yang menyenangkan bagi keduanya.

 

Sejak saat itu, Bondan mulai belajar menyisihkan uang sakunya. Ia ingin seperti Dudung, yang rajin menabung dan berhati baik. Ia sadar bahwa menabung bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga bisa membantu sahabat.


Dudung dan Bondan pun semakin akrab. Mereka belajar bahwa kebiasaan baik dan persahabatan adalah harta yang paling berharga.

 

Penulis : Anton Sucipto SP.

Alumni Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Fakultas Pertanian.

 

 

0/Post a Comment/Comments

Iklan