Oleh Azzura Septia Effendi Nasution dan AlHaq Zaiydan Zibriel Nasution
Banjir bandang yang sangat dahsyat terjadi di Aceh Tamiang, tepatnya pada hari Rabu, tanggal 26 November 2025. Pada pagi hari cuaca mendung dan diiringi gerimis -gerimis tipis. Lalu kemudian hujan lebat.
Pada saat itu kami keluar dari rumah, mengungsi, sehari sebelum banjir. Saya dan adik saya dititipkan oleh ayah dan Ibu di rumah nenek. Karena ayah dan Ibu pergi berbelanja dan pada saat itu hujan turun terus menerus, tanpa reda.
Setelah ayah dan Ibu pulang ke rumah, kami bergegas menyiapkan baju-baju untuk dibawa. Kami sangat ketakutan, karena ini pertama kali bagi saya dan adik saya mengalami hal seperti ini.
Setelah ayah dan Ibu mengemasi baju, kami pun terduduk diam sambil melamun dan ketakutan melihat air begitu deras.
Lalu Ibu dan ayah menenangkan kami agar tidak terlalu takut.
Pada saat itu lampu atau listrik sudah mati atau padam. Apa yang kami rasa sudah bercampur aduk. Takut, panik, dan semuanya takut dan ditambah lagi sinyal tidak ada. Setelah itu kami tertidur. Pada malam tanggal 26 November 2025, subuh pukul 05.00, rumah nenek yang kami tumpangi sudah masuk air dan pada saat itu kami semua ketakutan.
Ayah, Ibu dan nenek langsung tidak tidur lagi. Pukul 06.15 WIB air sudah masuk ke dalam rumah dan sudah tinggi, setinggi pinggang ibu.
Pada saat itu, kami semua berkumpul di rumah nenek dan sempat menggoreng pisang, namun tidak sempat memakannya. Ketika Andong memasukan pisang ke dalam minyak yang panas untuk menggoreng, tiba-tiba air menerjang pintu rumah Andong dan kami semua histeris, menjerit ketakutan dan saya bersama adik langsung ditenangkan oleh ibu dan ayah.
Yang lain langsung cepat-cepat menahan pintu, supaya air tidak buru-buru masuk ke dalam rumah, tapi di luar kendali ayah dan teman-teman kami, yang ikut mengungsi, air tak tertahankan.
Kami dioper ke atas atap seng rumah, karena melihat air tidak begitu tenang, namun setelah kami dan barang-barang dioper ke atas seng, air pun dengan derasnya naik.
Kami yang mengungsi di atas atap seng diguyur hujan dan di situ kami semua merasa cemas dan takut. Sangat takut jatuh dari atap karena melihat air yang begitu deras. Setelah itu adik saya mengatakan pada ibu kalau dia lapar dan haus. Pada saat itu tidak ada apapun untuk dimakan, karena barang-barang yang kami selamatkan tidak ada yang selamat, karena jatuh.
Adik saya yang lapar makan gula merah. Hanya itu yang ada. Saya juga memakan gula itu. Kata ibu dan ayah agar tidak lemas. Jadi kami makan gula merah agar tidak lemas. Setelah makan gula merah, kami merasa sangat haus.
Lalu Ibu meminta air kepada ayah untuk kami minum, tapi ayah mengatakan tidak ada air. Ibu mengatakan pada ayah kami lapar dan haus. Ayah berinisiatif menimba air banjir untuk kami minum. Lalu setelah kami minum, saya bertanya pada ibu, kapan airnya surut? Ibu menjawab dengan wajah yang sedih dan suara yang pelan.
Berdoa ya? Biar airnya cepat surut. Pinta ibu. Ayah menyuruh kami tidur. Biar kakak dan adik tidur saja dulu ya, jawab ayahku sambil mengelus kepalaku dan adik. Lalu aku ikuti apa kata ayah. Kami pejamkan mata dan tertidur. Setelah kami terbangun. Saya ngomong lagi pada ibu dan ayah “ Kok belum surut, Bu dan ayah?
Lalu Ibu menjawab sambil menangis dan takut. Berdoa ya Nak, biar kita tidak kenapa-kenapa. Dan saya langsung memeluk ibu penuh rasa takut. Lalu, di malam hari saya ketakutan karena gelap gulita dan saya bersama adik merengek kepada ayah dan ibu. Pukul berapa ini ayah? Kami takut.
Lalu ayah menghidupkan mancis, dan kami bisa melihat cahaya terang sedikit. Kami sedikit tenang, setelah ayah menghidupkan mancis.
Keesokan harinya, saya dan semua yang mengungsi melihat air makin naik. Kami takut tenggelam. Kami pun berdoa agar air cepat tenang dan surut. Pada saat siang hari kami kelaparan dan menangis, kami sangat lapar.

Posting Komentar