Jangan Hidup Seperti Benalu

 



Oleh Tabrani Yunis 


Pagi itu, halaman rumah tampak ramai dengan suara sapu yang bergesekan di tanah. Ayah sedang sibuk membersihkan perkarangan. Ia menyapu daun-daun kering, merapikan saluran air, dan memastikan rumah tetap bersih dan sehat.

Di bawah pohon jambu yang rindang, ayah melihat sesuatu yang aneh. Ada tumbuhan kecil menempel di dahan jambu. Ayah berhenti sejenak, lalu masuk ke rumah mengambil parang. Dengan hati-hati, ayah memotong tumbuhan itu dan membuangnya jauh.

Arisya, putri kecil ayah, keluar rumah sambil berlari kecil.

“Yah, kenapa ayah potong pohon itu?” tanyanya penasaran.

Ayah tersenyum. “Itu bukan pohon, Nak. Itu benalu.”

“Benalu? Apa itu, Yah?” Arisya mengerutkan kening.

Ayah pun duduk di bangku kayu, mengajak Arisya mendekat.

“Benalu itu tumbuhan yang hidup menempel di pohon lain. Ia tidak membuat makanan sendiri, tapi mengambil makanan dari pohon yang ditumpanginya. Lama-lama pohon itu bisa sakit dan rusak.”

Arisya terdiam, lalu berkata pelan, “Kasihan pohon jambunya ya, Yah.”

Ayah mengangguk. “Betul. Karena itu kita harus membuang benalu. Dan dalam hidup, kita jangan seperti benalu.”

Arisya menatap ayah dengan mata berbinar. “Maksudnya bagaimana, Yah?”

Ayah menjelaskan dengan lembut, “Kalau kita hanya mau menumpang, malas bekerja, dan selalu mengambil dari orang lain tanpa memberi, itu sama saja seperti benalu. Hidup kita tidak akan berguna. Lebih baik kita belajar rajin, mandiri, dan suka menolong, supaya hidup kita bermanfaat.”

Arisya tersenyum lebar. “Aku tidak mau jadi benalu, Yah. Aku mau jadi anak yang rajin dan suka membantu.”

Ayah memeluk Arisya dengan bangga. “Itulah anak ayah. Hidup yang baik adalah hidup yang memberi manfaat, bukan yang merugikan.”


 Pesan cerita:

Dalam hidup, janganlah kita menjadi seperti benalu yang hanya menumpang dan merugikan orang lain. Jadilah anak yang rajin, mandiri, dan suka menolong, agar hidup kita membawa kebaikan bagi semua.


0/Post a Comment/Comments

Iklan