Banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang pada tanggal 26 November 2025 lalu dan berlangsung berhari-hari membuat hidup kami tidak menentu. Derita itu kami rasakan sejak sebelum banjir, ketika hujan turun tak henti-henti hingga satu minggu.
Aku ingat pagi itu, pada 26 November 2025, air sudah mulai meluap dan kami pun mulai beres-beres, bersiap memindahkan barang-barang di rumah. Mana barang yang bisa dipindahkan, kami selamatkan ke atas genteng rumah. Air semakin lama semakin naik dan tinggi. Air di sungai tampak begitu deras dan menghanyutkan banyak harta benda masyarakat. Juga menghanyutkan rumah-rumah, mobil, dan lainnya.
Aku dan semua keluargaku pun mulai mengungsi. Pertama sekali kami mengungsi ke rumah saudara, karena rumahnya agak tinggi. Kami tidur di situ, tetapi air pun naik semakin tinggi, sehingga kami harus mengungsi ke tempat yang lebih tinggi lagi. Ketika airnya semakin tinggi dan dalam, kami digendong ayah, karena air sudah sedada ayah.
Setelah sampai ke tempat mengungsi lain, di sana ramai orang. Ada anak-anak, bayi, dan orang tua yang menyebutkan asma Allah dan bersalawat membasahi bibir kami. Kami menunggu air surut, namun air semakin naik setelah kami salat Subuh. Kami semua dalam keadaan kebingungan, hendak pergi ke tempat yang lebih tinggi lagi.
Subuh pun berlalu, tampaklah matahari dan kami satu per satu kembali mengungsi. Saya, saudara saya, Andong dan Mak Atok saya akhirnya mengungsi kembali ke rumah Andong yang bertingkat dengan menggunakan rakit batang pisang, melewati arus air yang deras dan ditolong oleh warga yang juga pengungsi.
Kami di situ sudah sangat takut. Hanya orang tua saja yang bershalawat, berzikir, dan meminta pertolongan kepada Allah agar kami selamat. Hari pun berlalu dan malam pun tiba dengan gelap gulita. Semua aliran listrik mati, ponsel pun mati, sementara air semakin naik lagi.
Ayah saya pun meminta tolong, “Tolong kami! Air sudah naik lagi ke atas tingkat dua rumah kami.” Ayah saya pun azan, meminta pertolongan kepada Allah. Akhirnya abang ayah saya datang. Kami semua sudah menangis di dalam karena takut. Adik saya pun kelaparan hingga menangis. Andong dan Atok saya pun sakit.
Kami pun mengungsi lagi ke tempat yang lebih tinggi, di atas atap rumah orang. Menyeberang dengan menggunakan rakit batang pisang dan kabel wifi. Tiga atap rumah orang harus kami seberangi dengan berjalan perlahan. Di depan mata kami, kami melihat hewan-hewan terbawa arus air dan rumah yang roboh. Hati kami pun semakin gelisah.
“Ya Allah, selamatkanlah kami semua,” kata mama saya.
Malam pun tiba lagi. Kami di atas atap rumah orang hanya beralaskan kain ala kadarnya. Lalu terdengar suara orang meminta tolong, memanggil nama ayahku, “Abu… tolong kami.”

Posting Komentar