Alah Bisa, Karena Biasa





Oleh Tabrani Yunis


Di sebuah desa bernama Lampouh Keude, yang terletak di kaki bukit dan dekat dengan sungai kecil yang jernih, berdirilah sebuah rumah mungil berwarna putih abu-abu. Rumah itu tampak asri, dikelilingi pepohonan dan suara burung yang riang.


Di rumah itu tinggal sebuah keluarga yang unik. Mereka menggunakan tiga bahasa setiap hari. Ayah dan ibu berbicara dalam bahasa Aceh. Ayah bersama ketiga anaknya—Nayla, Aqila, dan Arisya—berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Sementara dengan mama, anak-anak itu berbicara dalam bahasa Indonesia.


Karena sejak bayi sudah terbiasa berbahasa Inggris dengan ayah, Nayla, Aqila, dan Arisya pun sangat lancar berbicara dalam bahasa tersebut.


Suatu hari, tetangga bertanya kepada Aqila:

“Bagaimana kamu bisa berbahasa Inggris begitu lancar?”


Aqila tersenyum dan menjawab,

“Sejak kecil ayah selalu melatih kami. Kami berbicara bahasa Inggris setiap hari di rumah. Kuncinya adalah membiasakan diri. Ayah selalu bilang: Alah bisa, karena biasa.”


Ayah menambahkan dengan lembut,

“Practice, practice, and practice. Latihan membuat kita semakin pintar. Kalau kalian ingin bisa, jangan berhenti berlatih.”


Anak-anak pun mengangguk. Mereka mengerti bahwa kemampuan bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Semua butuh kesabaran dan kebiasaan.


Sejak itu, Nayla rajin membaca buku cerita setiap malam, Aqila berlatih menulis kata-kata baru, dan Arisya suka bernyanyi lagu anak-anak dalam bahasa Inggris.


Mereka belajar bahwa pepatah lama itu benar adanya:


• Awalnya sulit, tapi kalau dibiasakan, jadi mudah.

• Bakat saja tidak cukup, latihanlah yang membuat kita hebat.

• Kebiasaan melatih diri menjadikan kita semakin terampil.



Dan di rumah kecil dekat sungai itu, pepatah “Alah bisa, karena biasa” terus hidup, menjadi semangat bagi anak-anak untuk belajar, berusaha, dan tidak pernah menyerah.


0/Post a Comment/Comments

Iklan