Banjir Bandang Itu Memaksa Kami Mengungsi




Oleh Yaqutin Nafis

Murid kelas III MIN 1  Aceh Utara


Pada suatu malam, saya sedang tidur, pada pukul 12.00. Tiba-tiba pukul 03.00

malam saya terbangun. Terdengar suara Mamak, mengatakan air sungai sudah naik. Saya panik. Saya berkata kepada kakak saya, kak, air sungai sudah naik.

Bohong, jawab kakak saya


Ya sudah. Saya duduk di kursi luar. Saya melihat di meunasah sangat ramai. Ayah saya langsung ambil mobil. Kami pun memgambil baju-baju memasukan ke mobil.  Kata Ayah saya, cepat naik ke mobil. Adik saya  bertanya, mama mau ke mana? Air sungai sudah naik, jawab mama. Kami berlima langsung berangkat ke depan meunasah. Ayah saya  ambil mobil mau beli makanan, tapi air sudah tumit dan ketika ayah pulang, air sudah setinggi lutut.


Pukul setengah tujuh kami pergi ke masjid Kuta Blang. Di masjid ini kami menginap selama 6 hari lamanya. Setelah itu air di rumah sudah surut. Kami pulang ke rumah dan melihat rumah sudah penuh dengan lumpur.  Ayah dan mamak melihat kulkas, panci, lemari dan lain-lain di depan pintu.


Tiga hari kemudian, kami baru bisa membersihkan rumah  dan empat hari kemudian, rumah baru bersih dan kami kembali pulang ke rumah dan menempati rumah. Sementara banyak tetangga kami yang tidak bisa pulang lagi ke rumah, karena banyak rumah yang rusak dan tidak bisa ditempati lagi. Mereka harus mengungsi ke tempat pengungsian dahulu

0/Post a Comment/Comments

Iklan