Oleh Asmaul Husna
Inong Literasi
“Huhuhu, Ibu ayo kita pulang. Aku tidak mau di sini. Huhuhu, Ibu ayo kita pulang.”
Aku tersentak, terbangun dari tidurku yang baru saja terlelap di tenda sederhana ini. Dari kejauhan, dalam remang-remang cahaya lampu darurat, aku melihat seorang anak yang meronta-ronta pada ibunya, meminta pulang. Rambut kucir panjangnya tampak bergoyang-goyang.
Sepertinya dia seumuran denganku. Aku tidak tahu apa yang persis terjadi padanya. Aku juga pernah seperti dia, meminta pulang. Tetapi mengapa dia mesti meronta-ronta?
“Bu, ayo kita pulang,” ajakku suatu ketika sambil menarik tangan Ibu.
“Sampai kapan kita akan tinggal di tenda ini, Bu?” lanjutku.
“Iya, Nak. Kita memang akan pulang, tapi tidak sekarang. Untuk sementara kita tetap tinggal di tenda ini. Mohon bersabar ya, sayang,” balas Ibu sambil menatap mataku.
“Mata Ibu mengapa berkaca-kaca?” tanya batinku. “Bukankah kita akan merasa sangat senang jika memang akan pulang?” lanjut hatiku.
Namun, aku tidak berani bertanya langsung kepada Ibu.
Benar saja, beberapa hari kemudian Ibu benar-benar menepati janjinya, mengajakku pulang.
Tak sabar aku ingin segera berada di rumah. Bermain dengan seperangkat alat memasak kekinian yang dibeli Ibu sebagai hadiah ketika aku mampu menyelesaikan puasa Ramadhan pertamaku.
Aku juga tak sabar ingin segera membaca buku “Sayap Kupu-kupu” yang dibawa Ayah ketika pulang dari luar kota. Aku ingin menyentuh gambarnya yang lucu, sayap kupu-kupu yang seakan bisa benar-benar terbang. Tak sabar aku ingin membaca setiap lembarannya di ayunan yang dibuat Ayah di bawah pohon mangga, di samping pondok di belakang rumah. Betapa serunya. Benar-benar sebuah kenyataan yang indah.
Namun, kami tiba di pertengahan jalan.
“Bu, kita benar mau pulang? Sepertinya ini bukan jalan ke rumah kita,” protesku.
Ibu tak menjawab. Ia hanya mempererat cengkeraman tangannya memegang lengan kecilku. Aku berusaha mengimbangi langkah Ibu yang sangat berhati-hati. Kami tidak bisa berjalan cepat, sebab jalanan ini dipenuhi kubangan lumpur.
Pemandangan ini sangat asing bagiku. Di kiri dan kanan jalan penuh dengan tumpukan lumpur yang lebih tinggi beberapa kali lipat dari tubuh kecilku. Kayu-kayu besar berserakan di mana-mana. Banyak rumah hancur, dan banyak pohon mulai layu terendam air.
“Apa sebenarnya yang terjadi?” Bingungku semakin menjadi-jadi.
“Nak, kita sudah sampai,” kata Ibu, membuatku semakin bingung.
“Sampai apanya?” seru hatiku.
Aku hanya melihat hamparan sungai yang terbentang luas dengan arus yang mengalir tenang, bukan rumah yang selama ini kutinggali.
“Nak, rumah kita sudah tenggelam di dasar sungai itu,” jelas Ibu, menepis rasa penasaranku.
“Sayang, semua yang kita miliki selama ini bukanlah milik kita sepenuhnya. Ini hanya titipan dari Yang Maha Kuasa. Yakinlah, Ia akan menggantikannya dengan yang lebih baik,” sambung Ibu sembari memegang kedua pundakku dan menatap mataku.
Aku menangkap titik-titik air memenuhi mata bening Ibu, hingga menjadi linangan air yang membasahi pipinya. Aku hanya mengangguk, meski tak sepenuhnya memahami kata-kata Ibu.

Posting Komentar