Pages

SERIGALA DAN TELUR BURUNG






Oleh Anton Sucipto
Berdomisili di Banjarnegara, Jawa Tengah



Saat mentari pagi memunculkan sinarnya yang hangat, tampaklah serigala berjalan perlahan. Setapak demi setapak langkah kakinya yang kokoh tak mampu meyembunyikan raut mukanya yang sedih. Bagaimana tidak sedih, sesuatu hal yang paling dia takutkan kini telah melandanya. Dia hanya bisa meratapi pagi yang terlihat cerah, namun perasaannya tak secerah pagi itu.

"Aku harus kuat menahan lapar! Aku tidak mau teman-temanku mengetahui jika diriku penuh penderitaan terberat saat ini!" gumam serigala sembari menghentikan langkahnya.

Tiba-tiba dia dikejutkan oleh kehadiran belalang hijau.

"Hai sobat! Apa kabarmu kini?" ejek belalang hijau sambil hinggap di dahan pohon yang telah tumbang tertiup badai hujan semalam.

"Kabarku baik! Kau lihat kan tubuhku yang gemuk dan kekar ini!" sahut Serigala sambil membusungkan dadanya.

"Oh..ya..aku percaya padamu, wahai Serigala! Aku tak meragukan keluargamu memang petarung sejati. Tapi itu dulu...hahaha!" tawa Belalang sembari melompat-lompat di antara ranting pohon di dekat Serigala.

"Belalang hijau! Janganlah kamu menghina silsilah keluargaku! Bukankah kamu sudah berjanji mau jadi sahabatku sampai bumi ini hancur berkeping-keping?" keluh Serigala sedih.

"Iyalah..aku ini sobatmu yang terbaik!" ujar belalang itu sambil terus berlompatan ke kiri dan ke kanan.

"Kamu jangan suka mengejekku! aku tahu kamu pasti mengerti penderitaanku ini?" kata Serigala itu.

"Baik...baiklah...kawanku, sobatku yag lagi kelaparan!" sahut belalang itu menahan tawanya.

"Lalu.." kata Serigala tampak menundukkan kepalanya.

"Sobat, kau cari saja rusa yang dagingnya empuk itu!" saran Belalang hijau.

"Apa? Kau pasti lupa dengan janji kita!" teriak Serigala marah.

"Janji itu dulu bukan? Sudah lama kau mengatakan hal itu! Bukankah kamu sudah lapar berat? Bukankah kau perlu makanan atau daging untuk kehidupanmu? Apakah kamu mau mati besok karena kelaparan?" kata Belalang ikut marah juga.

"Kau ini, kecil-kecil suka menggurui aku! Aku tak mau melanggar janjiku" sahut Serigala kecewa.

"Lantas kau rela mati karena tak mau makan daging rusa lagi?" ucap Belalang sinis.

"Bukannya begitu, aku ingin kau mencari ide. Kau kan sahabatku yang kukenal paling pintar!" kata Serigala sembari merebahkan badannya di atas rerumputan kering.

"Musim kemarau yang panas, temanku ini sungguh malang nasibmu!" ejek Belalang itu bercanda.

"Ayolah cari jalan keluarnya!" pinta Serigala tampak lemas.

Belalang itu tampak berfikir sejenak. Sayapnya yang hijau digerakkan. Kakinya berlompatan seperti sedang melakukan pertunjukkan tarian profesional.

"Hmmmm...begini saja, kamu cari saja telur-telur burung di sekitar pohon di daerah sini" kata Belalang itu.

"Boleh juga ide kamu!" ucap Serigala tersenyum.

"Tapi ingat pesanku, sebelum kau mengambil telur itu, hendaklah kamu harus minta ijin pada burung-burung itu, aku yakin burung-burung di sana akan bersedia memberikan sedikitnya satu butir telur untukmu. Jadi kamu jangan asal mengambil!" jelas Belalang itu.

"Kalau mereka tidak mau memberikan telurnya bagaimana dong?" tanya Serigala ragu.

"Tenanglah kawan, tadi aku sudah bertemu dengan burung Kenari, dia bersedia memberikan sebutir telur untuk kau makan" sahut Belalang hijau sambil meninggalkan tempat itu.

Beberapa saat kemudian, sekitar 2 jam telah berlalu. Serigala itu sudah berada di bawah pepohonan yang rimbun. Kepalanya tampak mendongak serius memandang ke arah atas pohon itu.

"Pucuk dicinta, ulam pun tiba! Itu dia ada sebuah sarang burung yang cukup besar! Pasti di dalamnya banyak telur!" gumam Serigala sambil melompat ke ranting pohon yang tidak terlalu tinggi.

Dengan sekuat tenaga, keempat kakinya dia gerakkan secepat kilat agar bisa menjangkau ke bagian atas dari pohon itu.

Serigala itu memang lagi mujur. Dia kini telah menggenggam sarang burung itu.

"Asyik! masih banyak nih telurnya! Bisa mengurangi rasa laparku!" ucap Serigala tampak senang.

Lalu dia menuruni pohon yang rindang itu. Dengan lahapnya dia memakan telur-telur itu.

"Aku belum kenyang. Aku harus mencari telur-telur di tempat lainnya!" Gumam serigala.

Beberapa saat kemudian, Serigala itu telah sampai di bawah pohon nangka. Pohonnya tak terlalu tinggi. Dia bisa mengambil telur-telur itu dari dalam sarang burung yang berada di atas dahan pohon. Hampir 8 kali serigala itu menemukan sarang burung yang berisi telur. Kini wajahnya sudah sangat berseri-seri. Tak nampak raut kesedihan. Rasa lapar pun tak terasa lagi.

Pada sore hari, tampaklah dua ekor burung sedang berbincang serius. Mereka adalah burung Cucakrowo dan burung Kenari.

"Kita harus mencari tahu siapakah yang telah mengambil telur-telur milik kita!" kata burung Cucakrowo sambil mengepakkan kedua sayapnya.

"Tak perlu risau, aku sudah tahu pelakunya!" sahut burung Kenari.

"Bagaimana caranya kau tahu secepat itu?" tanya burung Cucakrowo bingung.

"Tadi aku bertemu Belalang hijau di tengah perjalanan. Dia mengatakan jika Serigala yang lapar sedang mencari telur untuk mengisi perutnya!" kata burung Kenari menjelaskan.

"Apakah kita harus menyerah begitu saja dan merelakan telur itu dimakan oleh Serigala?" keluh burung Cucakrowo.

Sejenak suasana di tempat itu sunyi. Mereka hanya terdiam satu sama lain. Angin-angin yang berhembus sepoi tak ubahnya seperti sedang mencibir.

Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kehadiran seekor Tupai yang berwarna coklat abu-abu.

"Wah ramai sekali disini ya!" ucap Tupai itu sambil bertengger di ranting kering.

"Hei tupai! Di sini bukanlah keramaian, melainkan suasana sunyi yang mencekam!" sahut burung cucakrowo marah.

"Apa kalian sedang terlilit hutang? eh maksudnya terlilit suatu hal atau permasalahan?" sahut Tupai sambil tersenyum.

"Kami kehilangan telur-telur yang ada di dalam sarang kita!" kata burung Kenari menjelaskan.

"Oo...begitu rupanya" sahut si Tupai sembari manggut-manggut.

"Apakah kau punya saran untuk kita?" tanya burung Kenari.

"Kalian taruh saja telur-telur yang busuk di dalam sangkar kalian. Nah dengan memakan telur busuk itu, pastilah nanti yang memakannya akan merasa kesakitan dan muntah-muntah!" kata si Tupai sambil melompat ke dahan pohon di atasnya.

"Tapi kita tidak punya telur yang busuk itu?" sahut burung Kenari.

"Nanti aku akan mencari beberapa telur yang busuk di tempat lain!" ujar si Tupai sambil pergi meninggalkan tempat itu.

Beberapa saat kemudian, si Tupai itu telah kembali berada di tempat berkumpulnya para burung itu.

"Wah, kau cepat juga!" puji burung Kenari kepada Tupai.

"Aduh aku jadi tersanjung nih! Ini kulakukan demi kalian, demi kebaikan kalian semua" sahut si Tupai sembari menyerahkan bungkusan berisi telur yang sudah busuk.

Kemudian mereka meletakkan beberapa telur busuk di sangkar mereka.

Pada esok harinya, tampaklah Serigala yang sedang memanjat pepohonan. Dia mau mengambil telur-telur burung di dalam sangkar yang berada di atas pohon itu. Dalam waktu singkat, dia sudah berhasil mengambil telur itu. Padahal dia tak mengetahui jika telur itu adalah telur yang sudah busuk. Tanpa pikir panjang, dia melahap semua telur yang dia ambil di sarang pohon tersebut. Tak lama kemudian, perutnya seperti diserang bom atom. Dia memegangi perutnya karena kesakitan. Serigala itu bergulingan ke sana kemari. Tubuhnya terbentur bebatuan dan pepohonan di dekatnya. Kini wajahnya pucat pasi.

Tiba-tiba datanglah burung Kenari dan si Tupai.

"Serigala yang malang! Kamu pasti kesakitan" kata si Tupai sambil mendekati Serigala yang masih bergulingan di tanah.

"Aduh...sakit sekali ini! Telur apa ini, rasanya tak enak!" teriak Serigala itu sambil memegangi perutnya.

"Serigala, kau harusnya tahu perbuatanmu mengambil telur-telur itu bukanlah tindakan yang terpuji" sahut burung Kenari.

"Iya...iya..aku minta maaf, aku menyesal, tolonglah carikan obat untuk mengatasi rasa sakitku ini. Aku berjanji takkan mengulangi perbuatanku itu!" kata Serigala menyesali perbuatannya.

"Baiklah, aku merasa kasihan padamu" sahut si Tupai sambil mengambil beberapa daun hijau dari dalam bungkusan plastik putih. 

Si Tupai dikenal sebagai pembuat atau peracik obat yang paling ampuh.

Akhirnya Serigala itu sembuh dari sakitnya setelah memakan obat pemberian si Tupai. Sejak saat itu, Serigala tidak berani mengambil telur-telur burung yang berada di pepohonan.




Penulis :

Anton Sucipto, SP. Lahir di desa Rakitan, kabupaten Banjarnegara. Alumni Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Purwokerto, Fakultas Pertanian. Suka menulis cerpen dan puisi. Cernak “Kisah Singa yang Terperangkap” pernah dimuat di Koran Solopos Jawa Tengah.




Majalahanakcerdas.com

Majalah Anak Cerdas,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar