![]() |
| Ilustrasi oleh AI |
Oleh Tabrani Yunis
Di sebuah desa bernama Beurawang, tinggal dua anak bernama Popon dan Nyanyak. Setiap malam, mereka belajar mengaji bersama Teungku di ruang tamu.
Suatu malam, ketika mereka baru saja mulai membaca ayat-ayat Al-Qur’an, tiba-tiba air masuk ke dalam rumah.
“Ma! Air sudah masuk lagi!” teriak Popon dan Nyanyak.
Mama bergegas datang. Ia segera mengangkat barang-barang ke tempat yang lebih tinggi. Pengajian pun terpaksa berhenti.
Popon bertanya dengan wajah bingung,
“Ma, kenapa banjir datang lagi, padahal tidak ada hujan di kampung kita?”
Mama menjelaskan dengan sabar,
“Nak, hujan memang tidak turun di sini. Tapi di gunung dan hutan hujan deras. Karena pohon-pohon di hutan sudah banyak ditebang, tanah tidak bisa menahan air. Air hujan itu langsung mengalir deras ke sungai dan masuk ke kampung kita. Itulah sebabnya banjir datang meski di sini tidak hujan.”
Nyanyak menghela napas. “Kalau banjir terus, besok kita tidak bisa sekolah ya, Ma?”
Mama mengangguk. “Benar, Nak. Selama hutan rusak, banjir akan terus datang.”
Popon lalu berkata pelan, “Mengapa kita tidak pindah saja, Ma?”
Mama tersenyum sedih. “Nak, pindah rumah butuh uang. Kita sudah kehilangan banyak harta saat banjir besar dulu. Di tempat penampungan pun tidak nyaman. Jadi, kita bertahan di sini saja.”
Popon dan Nyanyak terdiam. Mereka mulai mengerti bahwa menjaga hutan itu sangat penting.
Malam itu, mereka belajar satu hal berharga:
Banjir bukan hanya karena hujan, tetapi karena hutan yang rusak.
---
Pesan untuk Anak-anak
• Pohon adalah sahabat kita. Jangan menebang pohon sembarangan.
• Menjaga hutan berarti menjaga rumah, sekolah, dan masa depan.
• Anak-anak bisa ikut menjaga lingkungan dengan menanam pohon, membuang sampah pada tempatnya, dan mengingatkan orang dewasa untuk peduli pada alam.

Posting Komentar